Powered By Blogger

Sabtu, 11 Januari 2014

Gadis Itu Bernama Aulia

Gadis Itu Bernama Aulia

Seusai wiridan, kami para santri melakukan kegiatan rutin, yaitu tahfidz al-Qur'an. setengah juz kami membaca bersama. selesai jam 6 pagi, para santri berhamburan keluar dan mulai sibuk dengan kegiatan selanjutnya, ada yang berlari ke kamar mandi, ada yang menyempatkan diri untuk mencuci baju, ada pula yang berjalan-jalan di pesawahan di depan pesantrean dan bermain bola di lapangan. sedangkan aku yang telah membuka kokoku dan berjalan ke kebun di samping majlis dengan memakai kaus hitam santaiku. aku berjalan ke bawah pohon mangga tempat biasa aku merenung. di bawah pohon mangga itu ada batu sebesar kepala kerbau yang memang sebagai langgananku duduk-duduk sendiri. aku lebih senang menghafal al-Qur'an dan kitab-kitab di situ. lebih khusyu'. dan kadang kenangan masa laluku kembali dalam lamunanku.

Burung-burung bernyanyi di pagi yang cerah itu. dan embun bening pun menetes di bawah daun-daun pisang dan jeruk nipis. aku terpesona akan indahnya pagi dan aku terbang ke masa ketika aku pertama berangkat pesantren. Keluargaku mengantar, dan mereka melepasku dengan setitik air mata yang disembunyikan. wajah ibu yang mulia, dan adik-adik yang menciumku. betapa perpisahan yang mengharukan. dan aku bertekad dengan kuat ketika aku melihat baleho yang bertuliskan kata super, berwarna hijau, Lau kana nurul ilmi yudroku bil muna. makana yabqo fil bariyyati jahilun. Jika saja cahaya ilmu bisa di dapat dengan cara berkhayal, maka tiada orang bodoh di dunia ini. kata-kata itu seakan menyetrum hatiku dan seakan jadi cambuk hati untuk menggapai cahaya ilmu. ah kenangan yang indah dan awal yang mengesankan.

kenangan itu seakan kembali dipelupuk mataku. ketika aku melangkahkan kaki ke pesantren dan berkenalan dengan teman-teman baru baik yang lebih tua atau yang lebih muda. betapa banyak anak baru yang nangis berjamaah, terutama yang masuk kelas satu tsanawiyah. wajar sekali mereka menangis. tapi aku tidak akan menumpahkan air mata walau hati membiru haru. akan kujadikan perpisahan ini sebagai power yang dahsyat untuk mengejar cita-cita dan menghancurkan karang kebodohan dan berhala kehinaan.

Terkenang kembali ketika pertama kali kami shalat jamaah di majlis putih dan pak Kyai memberi sambutan pertamanya kepada santri baru dan berpesan kepada semua santri yang lama. bahwa Imam Syafii pernah bersyair. saafir tajid 'iwadhon 'amman tufaarikuhu, wanshob fainnalladzidzal 'aisyi finnashobi. Bermusafirlah, niscaya kau akan mendapatkan pengganti orang-orang yang telah kau tinggalkan. dan bersusah payahlah karena kenikmatan hidup itu terletak pada bersusah payah. nasehat yang begitu berkesan dan kuat memotivasi seluruh santri untuk belajar dengan giat dan bekerja keras. beliau juga memberikan pengertian tentang arti kata santri dan pesantren. dari kata santri yang disingkat sanggup antri dan juga santri yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti san itu sempurna dan tri itu tiga, jadi santri itu harus punya tiga kesempurnaan yaitu sempurna ilmu, sempurna akhlak dan sempurna ibadah.

Aaah kenanganku berlanjut ketika saat aku ingin keluar dari majlis karena ingin buang air kecil. aku sudah tak tahan. dan karena aku duduk di barisan dekat tempat wudhu, aku langsung keluar dan terburu-buru ke belakang, karena aku setengah berlari, akhirnya hampir saja aku bertabrakan dengan santri putri yang hendak ke kobong. dan ketika itu mataku dan matanya bertemu, cantik dan anggun, itu yang bisa aku rasakan pada kesan pertamaku melihat gadis itu. aku meminta maaf dan lalu ke kamar mandi.

Virus-virus cinta pun pada malam harinya menjadi pengganggu tidurku. wajah teduh gadis segar itu selalu terbayang. senyumnya yang menawan ketika aku salah tingkah di depannya dan meminta maaf membuatku tak bisa memejamkan mata. Ah penyakit cinta memang penyakit pemuda. beberapa kali aku menepis bayangnya aku tak bisa. aku ambil wudhu dan membuka ayat-ayat al-Qur'an tetapi wajahnya malah terbayang dalam tiap lembar halaman yang ku pandang. bahkan ketika aku berusaha menghilangkan bayang padanya dengan menulis arab, malah seakan pena yang kupegang menjadi langkah-langkah anggunnya.
Ya Tuhan, aku bisa gila. dulu waktu aku masih ingusan dan belum mengenal cinta, aku biasa saja melihat gadis secantik apapun. dan ketika aku masuk aliyah, cinta datang pada pandangan pertama. aku kehabisan akal dan akhirnya aku bersujud diatas sajadah dan menangis kepada Tuhan agar menghilangkan bayang-bayang gadis itu. memohon ampun telah melihat wanita yang bukan muhrim hingga tersiksa dalam bayang-bayang pesona gadis yang indah bak bidadari. air mataku menetes diatas sejadah cintaku. dan perlahan kepalaku seakan ada hawa sejuk dan menjalar ke hati. dan bayang gadis jelita itu mulai memudar. dan aku mengucap hamdallah.

malam itu aku terlelap dalam mimpi yang indah. bangun subuh bersama dengan para santri yang lain. kehidupanku sedikit berubah, rasa malas yang di rumah sering bergelayut kini mulai berubah menjadi semangat beribadah dan menuntut ilmu. melatih kesabaran dengan hidup yang jauh dari orang tua. mengantri di kamar mandi, bertemu dengan anak-anak nakal buangan putus asa orang tuanya, dan hingga bergelut dengan kitab-kitab kuning yang mengasyikkan.

Ya Allah, kenangan itu kembali lagi. kala aku masuk madrasah aliyah hari pertama. dan persiapan MOS, masa orientasi siswa. aku kembali bersua dengan gadis manis itu. ternyata dia juga anak baru. dan akan menjadi teman sekelasku. ya Robb, akankah aku kuat menahan rasa ini. saat bertemu dengannya aku menunduk. aku sungguh malu padanya. aku tak kuat mengangkat kepala. takut nanti malam kembali susah tidur. aku sengaja menjauh dari jalan yang ia lewati, dan ternyata, dia malah memanggilku, "Kak, maaf." suaranya begitu halus. aku tak berani menoleh. aku masih menunduk membelakanginya. "Ya ada apa?" kataku agak ketus. "Kemarin, saya minta maaf jika membuat kakak kaget. saya harap kakak memaafkan saya." katanya dengan memelas. "Oh tidak, saya yang salah. kamu tidak salah. maafkan saya." "ya sudah kita saling memaafkan ya kak, oya kakak namanya siapa?" tanyanya. dia menanyakan namaku. hatiku hampir copot. dan aku sangat kaget dan langsung berbalik dan menatap wajahnya yang teduh. dan cesss, hatiku seakan disiram air es. matanya begitu indah. dan senyumnya adalah nuansa ribuan ilham puisi. "Namaku Haryanto," jawabku agak gugup. "Oh kak Hary, perkenalkan saya Aulia Cahaya." katanya sambil menengkupkan tangannya di depan dada. aku pun melakukan hal yang sama. dan aku tak kuat lagi menahan suasana hati yang berjuta rasa. dan aku langsung pamit padanya dengan beralasan ada sesuatu yang harus aku selesaikan. dan aku meninggalkannya dengan mengucap salam. dia menjawab salamku dan tersenyum manis. entahlah, aku tidak bisa menafsirkan senyuman seorang gadis.

Pulang dari Madrasah, dan mengikuti kegiatan pengajian di pondok pesantren hingga malam. ketika aku merebahkan diri di tempat tidur dan memegang buku dan pena hitam. prediksiku benar, bayang-bayang gadis itu kembali hadir, suaranya yang merdu terngiang-ngiang di telingaku. dan tanpa kusadar. kutulis suatu nama di atas kertas putih itu, {Aulia Cahaya}...dan entah kenapa kepalaku terasa berat setelah aku menulis beberapa puisi yang terilhami dari kecantikan paras gadis itu. dan aku langsung tertidur.

Jam 12 malam Saiful membangunkanku. katanya ia lapar. aku antar ia ke kantin ternyata sudah ditutup. aku kasihan melihat Saiful kelaparan. aku masuk ke kobong sebelah dan membangunkan Dodi yang biasanya punya mie rebus. aku beli dua dan aku langsung memasaknya dengan kayu bakar di belakang dapur pesantren. di kebun. setelah masak aku dan iful makan bersama. aku melihat senyum terkembang dibibirnya. ah, senangnya bisa sedikit menyenangkan orang. terkadang soal perut kita tidak bisa main-main. orang kalau sudah lapar bisa nekad. banyak orang mencuri karena masalah perut lapar.

Aku teringat, kisah Sarman waktu aku kecil dulu. dia anak yatim. ibunya bekerja serabutan, kalau panen ibunya ikut menuai di sawah orang. Kadang ngoyos, nandur dan lain sebagainya. jika tidak ada pekerjaan sering Sarman dan ibunya kesulitan makan, apalagi waktu krisis moneter. untung saja .Sarman diijinkan oleh petani kebun untuk mengambil singkong di kebun. berbulan-bulan hanya makan singkong, kadang direbus, digoreng, atau bahkan begitu saja di masukkan dalam tabunan sekam. Sarman biasanya punya akal untuk bisa makan nasi yang enak, dia suka mengajak Nanda gadis kecil anak Haji Gofur bermain. Mendekati anaknya agar dapat nasi. selalu saja ada akal agar Nanda mendekatinya. pernah ia membuat baling-baling dari daun kelapa. ketika melihat itu Nanda mendekat dan meminta baling-baling itu, "Buat Nanda ya baling-balingnya?" Pinta Nanda. "Wah sayang ah, baling-baling bagus ini." Sarman pura-pura jual mahal. "Udah buat Nanda aja kak." pinta Nanda lagi dengan gaya anak orang kaya yang manja. "Kalo mau baling-baling ini, kamu harus pulang dulu sana, ambil dua bungkus nasi. Nanti kita tukaran." tawar Sarman. Nanda langsung berlari gesit ke rumahnya dan kembali, tetapi tidak membawa apa-apa. Sarman kecewa. "Kak Sarman, kata ibu kakak disuruh kerumah. makannya di rumah saja kata ibu." kata Nanda polos. Sarman langsung berseri dan memberikan baling-baling itu ke tangan Nanda. Nanda jejingkrakkan kegirangan. di rumah Haji Gofur Sarman makan nasi dengan lahapnya. ibu haji pun memberikan lauk pauknya yang enak-enak. Mungkin merasa kasihan dengan anak yatim di kampungnya yang sudah lama tidak makan nasi. dan terlantar dalam belitan ekonomi sulit.

"Kak kita tidur lagi yuk?" ajak Saiful, mungkin setelah perutnya kenyang ia mulai mengantuk. "Hayuk," jawabku. kami berjalan ke kobong dan kembali merebahkan diri di kasur lipat. Bayang Aulia kembali mengusik, segera kutepis dengan istigfar. aku pejamkan mata kembali dengan doa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar