Surat Balasan

Aku ingin membalas surat Aulia itu. Tapi bingung untuk menyusun kata-katanya. Surat Bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Tapi aku ingin membalas dengan bahasa Indonesia saja, bahasa Ibuku. Aku tidak terlalu mahir bahasa Inggris.Aku akan membalasnya dengan keahlianku bersyair. Ya, bahasa sastra adalah bahasa jiwa. Bahasa hati seorang pujangga. sejak dulu aku senang dengan lagu-lagu yang bernilai sastra dan mengandung nasehat-nasehat agama, seperti lagu-lagu Haji Roma Irama. Dan ketika SMP dulu pun aku gemar mengumpulkan puisi-puisi yang indah, kata-kata bijak dan syair kehidupan. Ah, aku yakin, aku akan bisa menulis sebuah syair balasan surat pink-nya. Aku ambil kertas putih pertengahan buku tulis. Aku memang tidak punya kertas cantik berwarna untuk surat menyurat, bagiku kertas buku biasa adalah simbol kesederhanaan. Pena Hitam yang tergeletak dilaci lemariku aku sambar. Tanganku agak gemetar, entah kerisauan apa yang mengalir dalam tubuhku. Darahku seakan memanas. Aku takut salah dalam menulis dan keraguan mulai muncul. Tapi segera ku tarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Ini kan surat untuk teman, bukan untuk pacar. Pikirku menenangkan getaran aneh yang meneror sekujur tubuh. Bismillah, semoga surat ini tidak mengandung dosa. Dengan perlahan kugoreskan pena itu diatas kertas putih, aku buat tarian yang indah dalam setiap geraknya. Dengan kehati-hatian dan mengerahkan jiwa seniku, akhirnya surat itu selesai, dan kubaca ulang.
Assalamu'alaikum wr.wb.
Untuk sahabat baikku.
Aku memang marah ketika aku dan kawan-kawan dipermainkan dan dipermalukan.
Sanksi yang pengurus OSPIA berikan memang terlalu berlebihan.
Tapi setelah pulang sekolah kami sudah memaafkan mereka.
Memang kemarahan adalah Api yang disulut setan.
Untuk menimbulkan permusuhan panjang dan pertengkaran.
Dan api kebencian akan sulit dipadamkan.
bila kita tak kembali dalam kesucian hati dan dalam asas saling memaafkan.
terima kasih atas perhatianmu kawan.
aku sudah lebih baik.
Laksana kasih sayang ibu,
sungguh sikap keras orang bijak lebih baik dari seribu kebaikan orang bodoh.
dan hati pemaaf adalah samudra yang luas.
tak akan pelit memberikan beberapa mutiaranya.
Dan aku berharap, Tuhan menjadikan hatiku sebagai lautan kasih sayang, kedermawanan, dan ilmu.
Dan semoga perjuangan kita dalam belajar di Madrasah ini, menghasilkan kebijaksanaan tanpa batas.
Aamiin.
Maafkan kalau tulisannya dan puisinya jelek...
from your Friend
Hariyanto
Degup-degup hatiku meningkat. Aku sampai gerah walau hanya menulis surat ini dalam satu halaman. Semoga dia mengerti dan tidak bingung dengan puisiku yang agak kacau ini. Aah, ternyata sulit menulis puisi dalam kondisi seperti ini.
Aku langsung lipat surat itu dan ku masukkan amplop surat biasa. Tak apalah, aku memang orang biasa. Setelah itu aku pergi ke kobong Dafi, dan memberikan amplop itu kepadanya. Dia heran, "Amplop kondangan buat siapa ini kak?? hehehe?" tanyanya sambil nyengir. "Alah kamu, masa buat kondangan. itu buat teteh yang ngirim surat pink tadi Dafi." "Emangnya, nggak malu kak? surat buat teteh cantik kok kaya gini? beli amplop surat anak muda dong kak. biar so sweet. hehehe." "Aaah, tidak usah, memangnya untuk pacar apa? dia cuma teman." kataku, pura-pura tiada rasa. "Teman apa teman??? hihihi.." Dafi sedikit meledekku. Aku cubit lengannya. dia mengaduh. "Jangan berpikiran macam-macam. Tugas kita adalah belajar dengan giat di pesantren ini. Kita tidak boleh punya pacar dulu. Nanti belajar kita terganggu. dan surat ini hanya untuk menghormati teteh itu." "Memangnya, siapa namanya kak?" "Aulia Cahaya." "Waah indah banget namanya, teh Aulia Cahaya, seperti wajahnya yang bercahaya." "udah ah, disimpan yang rapih. besok kasih dia. Jangan sampe ada yang tahu ya... untuk menjaga jangan sampe ada fitnah. dikiranya Kakak ada apa-apanya lagi. padahal kan cuma teman biasa." "Oke kak, sip. beres dah. Ongkosnya mana? hehehe" Dafi menedengkan tangannya. "Waah ni anak banyak maunya. Nih.." kataku sambil merogoh kantongku dan memberikan dua permen Kiss. Dafi nyengir, "Kok cuma ini?" "Mau tambahan?" kataku sambil mengepalkan tangan di depan mukanya. "Hehehe, ampun kak. becanda." "Hehehe... kakak juga becanda." "Oke, besok Dafi kirim." "makasih ya fi.." "Afwan kak."
Aku kembali ke kobongku dan makan siang...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar