Powered By Blogger

Selasa, 25 Maret 2014

Menghidupkan Ilmu

Menghidupkan Ilmu

Alex Iskandar

Usai makan siang, seperti biasa untuk santri baru sepertiku yang masih harus banyak belajar dalam mengejar ketertinggalan, aku belajar menulis di buku dengan mengartikan kitab safinah dengan tulisan arab pegon. Awal-awalnya masih kaku menulis dan lama. Tapi lama kelamaan menulis arab itu asyik juga. Setelah menulis kitab safinah lima baris dengan arti dibawahnya perlafadz arab, kami para santri pemula dibimbing membaca oleh ust. Syukron. beliau membacakan dan menyuruh kami mengikuti. Agar kami lebih lancar membaca kitab arab. Setelah usai, kami berhamburan ke kobong. aku pergi ke kebun yang sepi, untuk membaca ulang apa yang telah kupelajari. aku bertekad untuk menyaingi teman-teman yang sudah mahir membaca kitab. Maklumlah, aku ini dari SMP dan masih awam agama, sedang teman sekelasku rata-rata anak asli daerah pesantren dan anak ustadz, memang ada sih teman yang masih awam sepertiku, tapi ia tidak berusaha untuk mengejar ketertinggalan dan terlihat santai saja, aku tidak suka orang yang tidak punya gretet dalam belajar seperti itu. dan aku tak mau betah-betah tenggelam dalam kedunguan seperti ini. Maka kupikir ada baiknya juga menjauhi orang malas dan berteman dengan buku.

Aku tak dapat menawahan senyum melihat tulisan arabku yang masih jauh bagus dengan tulisan ust Syukron yang bagus sekali khot naskhinya. Aku pun ingin seperti beliau yang tanganya seperti lemas sekali dalam menulis dan tulisannya indah banget. Setiap gerakan spidol hitam yang ia goreskan selalu aku jadikan pedoman menulis, tapi tulisanku yang dibuku itu terlihat seperti ceker ayam... heheheh aku nyengir sendiri. Pelan-pelan ku baca tulisan buruk rupa itu, "Alahmdulillahirobbil 'aalamin, utawi sekehe puji iku tetep kedue Allah kang mengerani wong alam kabeh."
"Kak Hary, dipanggil ust. Syukron." kata Saeful dari samping majlis. suaranya setengah teriak.
aku menutup buku dan berjalan menuju Saeful, "Ada apa ful?"
"Nggak tahu kak, Mungkin ada yang penting." jawab iful sambil menggeleng kecil.
"Ya sudah. Makasih."
"Ya kak. sama-sama." Iful pergi ke arah kobong.
Aku berjalan lewat belakang majlis lalu ke kobong para ustadz, yang mana disitu ust Syukron beristirahat. Kuketuk pintu. Dari dalam suara ust Syukron mempersilahkan masuk.
Kubuka pintu dan kumasuk dengan salam. Para ustadz yang ada di dalam menjawab salam hampir serempak.
"Ada apa ustadz?" tanyaku.
"Kami butuh bantuanmu Hary." jelas ustadz Syukron. "Saya akan mengadakan diskusi agama dengan teman-teman ustadz yang lain. dan kau kami minta untuk menjadi moderatornya. Atau kalau dipesantren dikenal sebagai Raisul barnamij. "Wah, saya belum tentu bisa tad." tolakku.
"Tidak susah kok. Kamu hanya menjadi penengah antara kami bertiga." kata ustadz Fahmi yang terlihat serius sekali wajahnya. "Ya sudah, baiklah, saya akan coba." kataku.
"alhamdulillah, ini adalah salah satu cara untuk menghidupkan ilmu, yaitu dengan membahasnya dalam diskusi." terang ust Ali.

"Baiklah, kira-kira judul diskusinya apa?" tanyaku.
"Bagaimana kalau.....politik kenegaraan.?" usul ust. Ali.
"Wah, keberatan dan terlalu jauh Li, lebih baik yang ringan-ringan dulu." timpal ust. Syukron.
"Bagaimana kalau Semangat ilmu dan Dakwah?" usul ust Fahmi.
Semuanya mengangguk dan aku pun setuju.
"Baiklah, para ustadz yang bergelora, Kita mulai diskusi kita. Anda semua siap?" kataku dengan seringai senyum. Mereka semua mengamibl posisi melingkar atau halaqoh. Dan Diskusipun dimulai....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar