Powered By Blogger

Kamis, 27 Maret 2014

Pengajian Ilmu Alat

Pengajian Ilmu Alat
Alex Iskandar

Setelah sekitar setengah jam aku tidur siang, aku dibangunkan Nalim untuk persiapan sholat ashar. Mataku terasa masih ngantuk sekali. kepalaku pusing. Aku duduk sejenak untuk menyegarkan pikiran dan mengusir ngantuk yang menggelayut. Setelah agak segar, aku bangkit ke kamar mandi, lalu berwudhu dan bersiap sholat ashar. Aku mengambil kitab Jurumiyah dan Matan Bina, Kitab pemula untuk santri yang baru mulai mengaji. Kitab Jurumiyah berwarna hijau, Matan bina berwarna merah. Aku samber juga pulpen hitam merek standar, tak lupa aku membawa buku catatan, untuk menulis pelajaran dan hal-hal penting. Ustadz Fahmi pernah mengatakan, al ilmu shoidun, walkitabatu qoyiduhu. Ilmu adalah binatang buruan, dan ikatannya adalah tulisan. Otak kita memang memiliki kapasitas memori yang luar biasa. Tapi ada kalanya al insanu mahallul khottho'i wannisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kalau mengingat plesetan ust. Syukron, Manusia itu asal kata dari Man dan Nusia, Man artinya wong atau orang, Nusia artinya kang den laliakeun atau yang dilupakan, jadi manusia jika di artikan dengan bahasa Arab berarti ORANG YANG DILUPAKAN. Kita sering lupa siapa kita, dari mana kita dan untuk apa kita sebagai manusia ini diciptakan. Jadi perlu sekali ketika belajar kita membawa buku catatan. Catatan kecil sangat berguna ketika guru mengeluarkan statement yang penting untuk ditulis.

Setelah siap segala sesuatunya, aku melangkah keluar kobong menuju majlis untuk sholat ashar dan mengaji kitab. Matahari masih terang menguning di arah Barat. Condong menyinari pipi kananku. Suara dedaunan yang gemerisik di terpa angin. Beberapa santri berlari dari kamar mandi ke kobong, ada pula yang sudah berjalan ke majlis dan santri putri pun berjalan dengan anggun memakai mukena putih-putih. Inilah suasana di kota santri yang dulu pernah kudengar. Santri-santri yang mendekap Qur'an di dadanya, pergi mengaji dengan busana yang islami. Suasana yang indah dan sangat kontras dengan suasana di kota-kota besar yang mudah ditemukan wanita-wanita dan pria yang memakai busana yang macem-macem, hingga aku pun tak hafal model bajunya, ada baju model sundel bolong, model baju keponakan, model lejing, model pensil, model gembel dlsb. Pesantren bisa dibilang tempat yang ideal dalam mempraktekkan ajaran dan nuansa islami. Ada yang bilang pesantren adalah penjara suci, orang memang banyak berbeda perspektif dalam memandang pesantren, tapi menurutku pesantren adalah taman surga, ada yang bilang pesantren sarang teroris, yang bilang teroris itu siapa? kalau Amerika, Aku tanya lagi, Amerikat itu siapa? Kalau Anda bilang polisi dunia, saya tanya lagi, apakah polisi dunia berhak untuk mencap pesantren sebagai sarang teroris. Kalau Amerika mengatakan pesantren sarang teroris, Indonesia sarang teroris, lantas Amerika itu sarang apa? Apa anda bilang sarang macan. Kita harus banyak mengkaji Amerika itu tangan penjajah, atau penjajah sungguhan. Simplenya, Jika santri dituduh maling oleh rampok, apa anda langsung percaya, apalagi yang dituduh maling itu anak anda sendiri, terus anda gebukin anak anda sampe mati, sedang rampok sungguhan tepuk tangan dan memuji anda sebagai pahlawan dunia. Terus anda bangga telah membunuh anak anda sendiri yang sebenarnya bersih tak bersalah. Memang kita harus banyak belajar tentang salah dan benar, tapi selain tahu kebenaran, kita juga harus bijaksana dan berhati-hati akan tipu daya musuh. Yang perlu dicatat, Indonesia memang bangsa yang hebat, terkenal sejak dulu, dan anak-anak Indonesia memang pintar-pintar dan cerdas-cerdas, tapi Negara yang sinis pada Indonesia akan terus berupaya menjatuhkan mental kita dan terus ketakutan akan kebangkitan dunia Timur yang dipelopori orang-orang Indonesia. Makanya sejak dulu kita diadu domba.

Aku masuk ke majlis dan meletakkan kitabku di rak buku di pinggir majlis. Kuambil al Qur'an dan kubaca beberapa ayat. Adzan berkumandang, kami bersama-sama melaksanakan sholat qobliyah ashar yang sudah menjadi kebiasaan di pesantren, melaksanakan sholat sunnah rawatib. Lalu para santri baik putra maupun putri melantunkan bait syair Abu Nuwas,

Ilaahiii lastu lilfirdausi ahlaa walaa aqwa 'alannaril jahiimi
fahablii taubatan waghfir dzunuubi fainnaka ghoofirudzdzanbil 'azhiimi

Kubaca dengan penghayatan, sungguh arti dari munajat abu Nawas ini sangat menyentuh dan cerdas. Ust Ali pernah mengartikan munajat ini yang artinya, Oh Tuhanku, aku bukanlah penghuni surga firdaus, namun aku tak kuat masuk neraka Jahim. Maka terimalah taubatku dan ampuni dosa-dosaku. Karena Engkaulah yang Maha Mengampuni dosa-dosa besar.

Pak Kiai Ahmad Shobirin datang. Aroma minyak wanginya tercium. Beliau Shalat qobliyah dan iqamat pun dikumandangkan. Semua santri berdiri. Merapatkan shaf dan meluruskan pundak. Pak Kiai selalu mengingatkan untuk meluruskan shaf agar mendapat kesempurnaan sholat. Mengingatkan pula bahwa setan masuk melalui sela-sela barisan. Semua santri telah rapi dan pak kiai memulai takbir, diikuti para santri. Sholat pun terlaksana dengan khusyu' dan khudhu'. usai salam kami semua wiridan dan doa yang dipanjatkan pak Kiai. Setelah itu para santri bersalaman dengan pak Kiai. Pak kiai pulang ke rumah dan pengajian dimulai. Pengajarnya biasanya dipegang oleh Ust. Fahmi. Beliau cukup matang atau cukup ngelotok dalam penguasaan kitab Nahwu dan Shorof. Pengajian dimulai diikuti santri putra dan putri. Dengan penjelasan yang tenang ust Fahmi mengajarkan ilmu alat itu, semua santri menyimak dengan khusyu', kecuali santri baru yang kecil-kecil, biasanya mereka ketiduran dan ust. Fahmi memakluminya. Nanti jika telah terbiasa mereka akan kuat mengaji satu jam tanpa tidur, karena biasanya jika telah sebulan bagi yang tidur ketika mengaji ada sanksi tertentu yang akan membuat mereka jera, itu pernah disampaikan padaku diawal perkenalanku dengannya di pesantren.


Aku mencatat beberapa hal penting tentang ilmu nahwu shorof, inilah catatannya:

Ilmu itu pengetahuan tentang sesuatu.
Nahwu Shorof adalah ilmu alat atau ilmu yang dipergunakan untuk membaca kitab gundul.
Nahwu adalah ilmu grammer atau tata bahasa Arab, sedang Shorof adalah ilmu perubahan kata.
Jika ingin mendalami semua ilmu agama atau Islam, kuncinya ada pada ilmu alat ini.
Ilmu alat akan menjauhkan kita dari kesalahan memahami teks bacaan Arab.
Ilmu Nahwu dan shorof itu adalah bapak dan ibunya ilmu.
Kitab awamil dan jurumiyah adalah kitab dasar, sedang masih banyak kitab yang harus dikaji dengan serius, diantaranya, kitab Imrithy, Mulhatul i'rob, Alfiyah ibnu Malik, Mutammimah jurumiyah, Alfiyah ibnu Aqil, dan banyak yang lainnya.
Ilmu agama itu banyak, Selain nahwu shorof, santri akan juga diajarkan ilmu balaghoh, Badi', Manthiq, Tauhid, Tafsir, Hadits, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu lainnya yang jumlahnya 12 fan ilmu.
Jika ingin jadi ustadz, minimal 8 tahun pesantren.
Jika ingin jadi kiai minimal 12 tahun pesantren.
itu pun tak menjamin, semua atas kehendak dan izin Allah. Tak semua santri menjadi kiai dan ustadz.
yang penting, jadilah santri pada profesi apapun.

Ust. Fahmi dengan perlahan membacakan kitab jurumiyah dan mengartikannya dengan bahasa banten, kami menuliskan artinya pas dibawah lafadznya. Penjelasannya alhamdulillah dengan bahasa Indonesia, hingga kami yang orang betawi bisa memahaminya. Pengajian ditutup dengan wallahu 'alam bishshowaab, Allah-lah yang lebih tahu akan kebenarannya. Ini adalah ungkapan tawadhu orang alim ketika menjelaskan sesuatu, yang merasa banyak kekurangan dan mungkin ada kesalahan, hingga kebenaran segalanya diserahkan kepada Allah. Lalu kami para santri membaca syair dengan wazan faulun mafaailuun.

Naruddu bikal a'daa minkulli wijhatin
wabilismi narmihim minal bu'di bisysyatat
fa anta rojaai yaa ilaahi wasayyidii
fa fariq lamiimal jaisyi in romaa bigholath

Artinya:
Kami menolak kejahatan dengan Nama-Mu ya Allah, dari segenap arah.
dan dengan nama-Mu kami melempar dari jauh dengan kekuatan
maka Engkaulah harapanku, Duhai Tuhanku dan Tuanku
maka pisahkanlah barisan pasukan musuh, jika kumelempar.

Suara yang berbarengan itu terdengar merdu dan suasana senja menjadi selaksa surga. Burung-burung mulai bernyanyi di dahan pepohonan. Para santri bubar dan aku yang masih duduk di majlis itu melihat kibaran-kibaran jilbab yang laksana gelombang lautan. Aku merasakan inilah salah satu kekuatan yang akan menjadikan Islam begitu memikat hati orang-orang yang jernih akalnya. Inilah kedamaian dan kebahagiaan yang selama ini orang cari. Kesederhanaan, Keilmuan, Kesabaran, keqona'ahan, kebersihan hati dari sifat buruk, keikhlasan, dan cita-cita tinggi kehidupan, yakni mencintai sesama dan mencintai Tuhan. Suasana syahdu itu tak kuat ku tahan. Air mataku memenuhi kelopak. Aku tuliskan sebuah lagu tentang santri ini. di kertas catatanku, dengan nada yang kubuat sekenanya. Inilah Mars Santri Ciptaanku...

Mars Santri

Burung bernyanyi
Diatas dahan pepohonan
Lautan jilbab
Santri-santri yang mengaji
Di pondok As Salaam yang tercinta
Membina iman jiwa dan raga
Membangun dunia Islami
Menuju ridho ilahii

Alunan Qur'an
Senandung mukjizat abadi
Hidupkan sunnah
Di Bawah Naungan Ka'bah
Bintang-gemintang yang bertaburan
teman munajat diwaktu malam
Dzikir dan doa harapan
Tegakkan kalimat tauhid

Allaahu Allaah.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar