
"Baiklah saudara-saudara sekalian, kita mulai saja diskusi kita siang ini. tapi sebelumnya demi kelancaran diskusi kita, kita mulai acara ini dengan basmallah." ucapku "Bismillahirrohmanirrohim." semua ustadz telah siap. aku melanjutkan. "Baiklah, tema kita kali ini yaitu kita akan mendiskusikan tentang semangat ilmu dan dakwah. Untuk pembahas pertama saya persilahkan kepada ustadz Syukron untuk menjelaskannya."
Ustadz Syukron mengucap basmalah dan muqaddimah lalu membahas, "Untuk diskusi tentang semangat ilmu dan dakwah, saya kita sangat erat hubungannya, karena ketika orang itu memiliki semangat ilmu atau semangat menuntut ilmu, pasti ia pula semangat untuk menyebarkannya atau mendakwahkanya. Kalau saya umpamakan, ketika orang itu rakus makan, dan perutnya penuh dengan makanan, maka ia akan membutuhkan ke WC atau buang air, dan kuantitas pengeluarannya bisa banyak pula, dibanding orang yang jarang makan, yang bisa jadi jarang ke belakang untuk setor ke bank jamban. iya to? hehehe..." kami semua tertawa.
"Nah begitulah umpama dari semangat belajar ilmu, ia akan terdorong pula untuk mengoutput apa yang telah ia cerna di hati dan pikirannya. Saya kita itu saja penjelasan saya menyangkut hal ini. terima kasih." tutup ust Syukron dengan gaya guyonnya yang khas.
Aku kembali mengambil kendali, "Bagus sekali ust Syukron atas paparannya yang mudah sekali dicerna sehingga mudah pula untuk dioutputkan. hehehe.." candaku. "Baik yang selanjutnya akan kita dengarkan paparan dari ustadz Ali, tafadhol ustadz..."
Ust Ali bedehem lalu mengatakan, "Toyib, kalau menurut saya, semangat adalah power atau strong yang memompa hati sang pelajar atau muta'allim untuk melakukan sesuatu apapun itu. Jika ia sedang jatuh cinta, maka cinta itu jadi semangat untuk mendapatkan orang yang ia cintai. dan ini fithroh. Setiap orang punya cinta, setiap orang punya kemauan dan semangat dalam hidupnya. Jika ia mencintai ilmu maka semangat yang bergelora itu akan ia aplikasikan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Ia tidak akan pernah puas dengan ilmu. Yang saya tahu, Orang kaya itu tidak akan puas dengan hartanya, bumi tak akan puas dengan airnya, Ulama tidak akan puas dengan ilmunya, dan neraka jahannam tidak akan puas dengan pendosanya. jadi saya simpulkan, semangat ilmu adalah kekuatan yang diberikan Allah ta'ala untuk tolabul 'ilmi, dan kaitannya dengan dakwah, saya artikan dakwah berasal dari kata da'a yad'u da'watan, berarti dakwah masdar dari da'a yang artinya mengajak, da'wah berarti ajakan, sedangkan maf'ulnya mad'u, orang yang diajak atau audiens. Nah, apakah orang yang tak tahu jalan ke Karawang bisa mengajak orang lain ke karawang? tentu tidak bisa kan? yang ada malah nyasar, atau istilah agamanya dhollu wa adhollu, sesat menyesatkan. Jika ingin berdakwah maka harus punya pengetahuan jalan yang benar, shirotol mustaqim, jalan menuju Allah swt yang terdapat pada petunjuk Al Qur'an dan sunnah nabi serta pemahaman yang benar tentang Islam. sekiranya itu saja Syukron katsiron." tutupnya.
"Subhanallah, semakin bergelora diskusi kita siang ini. dan yang terakhir adalah paparan dari ust Fahmi, silahkan ustadz..." kataku.
"Na'am, Syukron ya akhi Hary, sebenarnya saya setuju dengan paparan ust Syukron dan ust Ali, tapi saya akan mencoba memandang dari sisi yang berbeda tentang semangat ilmu dan dakwah. Ilmu itu sesuatu yang mulia dan memuliakan pemiliknya, firman Allah dalam surat al Mujadalah ayat 11, yarfa'illahulladzina aamanuu minkum, walladzina uutul 'ilma darojaat. Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Jadi dengan semangat ayat ini, orang yang beriman ingin diangkat derajatnya dengan ilmu. jadi saya katakan, adanya semangat itu karena adanya stimulus atau rangsangan, kita mau makan karena kita tau makanan itu baik buat kita, buat tubuh kita. jadi semangat ilmu itu adalah semangat mencari derajat mulia di sisi Allah tentunya. Adapun dengan dakwah, itu menjadi kewajiban bagi setiap umat islam, ia berdakwah sebisanya, karena perintah dakwah itu, ud'u ilaa sabiili robbika bil hikmah wal mauizhotil hasanah wajaadilhum billati hia ahsan. Ajaklah kejalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik pula. Jadi semangat, ilmu dan dakwah, tiga concern diskusi kita siang ini memiliki kaitan yang erat. Semangat akan menghasilkan ilmu, ilmu akan mendorong dakwah, dan dakwah akan memble tanpa semangat. Saya istilahkan ini sebagai kekuatan segitiga. wallahu a'lam. syukron." Kami semua bertepuk tangan. Lalu saya timpali, "Segitiga kekuatan itu adalah simbol tiga ustadz yang super-super dihadapan saya ini. Betul tidak?"
Semua tersenyum. "Insya Allah, ini perjuangan kita bersama." kata ust Fahmi.
Acara saya tutup dengan hamdallah. dan kami bersalaman tanda diskusi selesai. alhamdulillah.... aku menemukan percikan semangat persatuan pada tiga ustadz ini. Mereka bergitu bersemangat dan pandangannya cukup luas di usia yang masih muda-muda ini. Merekalah harapan masa depan yang baik bagi bangsa dan negeriku. Allahummaj'alnaa minashsholihiin. Ya Allah, jadikan kami orang-orang sholeh. Aamiin.
Aku kembali ke kobong dengan buku tulisku. Aku taruh buku itu di lemari hitam dan aku merebahkan badan di atas kasur lipat. Ada beberapa anak yang ngobrol sambil tiduran. Ini adalah waktu senggang, aku pun ingin sedikit istirahat. untuk mengembalikan semangatku dalam menuntut ilmu. Diam-diam aku iri pada ustadz-ustadz pesantren, iri dalam arti positif. aku ingin bijak dan cerdas seperti mereka. Memiliki ilmu yang menjadikan mereka mulia di mata manusia, dan yang membanggakan mulia di sisi Allah. Apa ini yang dikisahkan dalam al-Quran yang pernah saya dengar kisahnya di waktu kecilku dulu. Bahwa ketika Adam as. diciptakan dan diajarkan nama-nama seluruhnya, hingga malaikat dan iblis diperintah sujud kepadanya karena ilmu itu. Kemuliaan ilmu sangat agung. Aku akan mempelajarinya terus insya Allah, dengan berpedoman akan syarat menuntut ilmu yang disampaikan oleh H. Salim yang mengutip perkataan sang ahli ilmu. Bahwa syarat menuntut ilmu itu ada enam, yaitu Cerdas, Rakus pada ilmu, Sabar, Bekal, Petunjuk guru, dan waktunya lama. Mungkin perjalanan ilmuku baru dimulai. Langkah-langkah hatiku baru menapaki pintu gerbang ilmu yang harus kujelajahi taman-tamannya, ku ikuti aliran sungainya dan ku selami kedalaman samuderanya. Hingga seperti yang dikatakan Kiai Ahmad, bahwa ulama yang sesungguhnya itu adalah ulama yang ilmunya tabahhur, luas dan dalam laksana lautan samudera. La haula walaa quwwata illaa billah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar