Langkah Pertamaku

Langkah Pertamaku
Aku ke luar dari kobongku, angin berhembus sangat dingin. seperti dingin angin gunung. aku berjalan melangkah ke sumur santri putra yang berada di belakang dapur pesantren. suara sendalku beraturan laksana ketukan seorang penabuh rebana. kegelapan menghantui kebun belakang di dekat kamar mandi santri, aku menengok ke arah gelap yang tanpa lampu yang menerangi. seakan pohon kelapa itu melambaikan daun-daunnya. dan aku mengacuhkannya. aku teruskan langkahku untuk memasuki kamar mandi yang di sekat menjadi empat ruang. kamar mandi yang sederhana. sesederhana para santri salafiyah yang tinggal di pesantren-pesantren tradisional.
setelah buang hajat dan berwudu, aku keluar kamar mandi dan melangkah dengan santai ke kobong ku lagi. waktu kubuka pintu yang berdenyit. Saiful terbangun, "Sudah jam berapa kak?" tanyanya. "Baru jam 3 dini hari." jawabku. "Kakak mau ngapain?" tanyanya lagi. "Kakak mau shalat tahajud, kamu mau ikut?" ajakku. "Nggak kak, dingin banget, nanti saja kalo cuacanya tidak musim dingin seperti sekarang. "Ya sudah." kataku dan Saiful anak kelas satu MTs itu kembali menarik selimut merah gambar Spongebob. cuaca memang dingin, tapi aku ingin menjadikan saat ini sebagai waktu yang sangat berharga dalam detik-detik hidupku. bersujud kepada Allah, kala manusia kedinginan dan terlelap tidur.
aku ambil kain hijauku, dan aku pakai baju koko putih dan peci putih. Sajadah hijau aku selendangkan ke pundak kanan. aku melangkah menuju majlis pesantrenku. sekejap aku melirik ke atas. aah, aku melihat bintang-bintang berkerlipan. indah mempesona. langit ternyata begitu cerah. seakan awan-awan tak mau menghalangi doa-doa antara langit dan bumi. "waktu yang tepat untuk bermunajat," bersit hatiku. kukembali melangkah ke dalam majlis, dan memasuki majlis yang cukup luas itu, dengan keramik, tembok dan anternit berwarna putih. seakan di dalam alam putih bersih.
Aku gelar sajadah hijauku dan aku takbir untuk shalat sunnah, setelah fatihah aku pilih surat annur: 35, aku tenggelam dalam maknanya dan seakan terbang ke alam bahagia..rakaat kedua ku pilih surat al-waqi'ah dan aku seakan bertemu dengan keindahan surga dan bidadari-bidadarinya.
Usai salam aku tenggelam dalam munajatku. bertaubat atas segala dosaku dan mengharapkan setetes karunia-Nya. aku berharap dan memohon akan keberkahan ilmuku. dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain kelak ketika telah terjun ke masyarakat.
aku bangun dari dudukku, setelah itu shalat witir 3 rakaat. dan terus membaca beberapa ayat al-Qur'an. walau sedikit aku berusaha untuk menyempatkan diri membacanya. aku teringat akan pesan guru mahfuzhotku. khairul umuri ausathuha. sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. biar sedikit beramal asal istiqamah. kenangku akan kata-kata sang guru.
usai shalat aku kembali ke kobongku. aku membangunkan teman-teman dan adik kelas yang satu kobong denganku. dan ternyata di kobong lain. para murabbi juga sedang bertugas membangunkan anak-anaksantri untuk persiapan shalat subuh berjamaah di majlis pesantren. beberapa anak telah bangun dan bergegas ke kamar mandi. ada beberapa anak yang tidur lagi dan susah untuk dibangunkan. beberapa kugoyangkan tubuhnya tidak juga ia mau bangun. aku bingung bagaimana membangunkannya, tiba-tiba datang seorang ustadz yang terkenal cukup killer di kalangan pesantren yang membawa sebatok air dan byuuuuur. beberapa anak yang masih tidur itu disiram wajahnya dan langsung terbirit-birit ke kamar mandi. "Beginilah cara efektif membangunkan santri yang malas." kata ustadz Fahmi yang sambil keluar kobong. aku hanya tersenyum saja melihat anak-anak basah kuyup. disiplin yang hebat. kata hatiku. aku selalu belajar memahami dalam berbagai peristiwa. Tapi rasa kasihanku berkata, tidakkah ada cara lain yang lebih mengena selain ini? pikiranku berputar.
"Ka Hary," ada suara yang memanggilku, aku menengok kesamping, ternyata Hakim. "Ada apa Kim?" tanyaku. Dia mendekat dengan pakaian yang sudah rapih untuk jamaah subuh. "Ka, boleh minta tolong nggak?" "tolong apa?" tanyaku. "Tolong bantuin saya kak?" katanya agak malu-malu. Hakim memang adik kelasku di Aliyah yang sejak datang ke pesantren sudah akrab denganku dan ia menganggap diriku kakak angkatnya. "Tolong bantuin kak, saya pusing?" katanya lagi. "iya bantuin apa dulu?" tanyaku agak gregetan. "Anu kak, ini, kesini kak, saya malu!" katanya sambil menarik lenganku ke sudut kobong yang agak sepi, sepertinya ia mau mengatakan sebuah rahasia. "Tolong bantuin membalas surat Cinta kak, dari Santri putri. saya pusing kak." katanya sambil membisiki telingaku. "Hahaha, ada ada saja kau ini Kim, masa balas surat cinta dari seorang gadis kok minta bantuan kakak sih. jawab aja, iya saya terima, atau maaf ya, saya tidak bisa terima, beres kan? gitu aja kok repot." ledekku dengan gaya GusDur.
"Iiih, kak Hary mah ngledek melulu. isi suratnya rumit. secara tidak langsung ia menyatakan cinta. tapi saya bingung jawabnya." "Lah, sampean suka nggak?" selidikku. Wajah Hakim berubah memerah, sambil menunduk, "Sebenernya saya juga suka kak, tapi saya mau fokus belajar. kan saya ingin jadi seorang ustadz kelak di kampung." aku membaca kegalauan hatinya dari raut muka dan cahaya matanya. "Baiklah, nanti kita bahas lagi setelah shalat subuh dan tahfidz Qur'an." kataku. "Alhamdulillah, terima kasih kak. Ayo kak, kita ke Majlis. anak-anak yang lain sudah kumpul mau subuh." ajaknya. Aku dan Dia berjalan ke Majlis pesantren yang bercat putih itu. para santri yang menunggu membaca shalawat bersama-sama.
"Ilaahiilastu lil firdausi aahlaa... walaa aqwaa 'ala naril jahiimi...
fahabli taubatan waghfir dzunuubi, fainnaka ghoofirudzdzambil 'azhiimi....."
Aku dan Hakim shalat qobliyah subuh. bersebelahan. kadang ada saja teman hakim yang menggodanya dengan menatap Hakim yang shalat dengan dengan wajah di lucu-lucukan. Hakim pun tak kuat dan membatalkan shalatnya lalu menjewer temannya itu sambil terkekeh, "Anta Ifriith". santri yang berdekatan dengan teman hakim yang nakal itu tak kuat menahan tawa, ketika temannya itu dikatain "Kamu (jin) Ifrith"
Hakim pindah shalat di samping kiriku. aku sempat tersenyum dan menahan tawa ketika hakim menjewer temannya. sungguh shalat khusyu' itu memang sangat sulit. apalagi bagi santri yang baru satu tahun di pesantren dan baru belajar sedikit pengetahuan agama. setelah para santri telah berkumpul, dan iqamah dikumandangkan, kami semua berdiri tegap dan lurus laksana tentara yang hendak berperang. yang menjadi Imam Pak Kyai, dengan suara bacaan al-Qur'annya yang merdu dan tartil, kami semua tersihir dalam ayat-ayat Allah. menambah kecintaan kami kepada al-Qur'an. Usai shalat, kami semua wiridan. santri putra ada 3 shaf, santri putri berada dibelakang hijab hijau yang membatasi kami juga ikut zikir bersama.
Aku melirik kiri dan kanan, ada saja santri yang tidak wiridan dan manggut-manggut karena ngantuk. Pak Kyai Ahmad Shobirin, sering menyindir anak santri yang suka ngantuk dan tak ikut wiridan dengan ungkapannya, "Man taroka wirdan fahua qirdun, barangsiapa yang meninggalkan wiridan maka ia monyet." para santri biasanya tertawa tertahan bila pak kyai mengatakan itu, karena merasa kalau wirid subuh suka mengantuk. suasana pesantren memang begitu berkesan bagi para santri yang betul-betul menghayati kehidupan penuh aktifitas keilmuwan di pondok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar