Powered By Blogger

Rabu, 22 Januari 2014

Surat Balasan

Surat Balasan

Surat Balasan

Aku ingin membalas surat Aulia itu. Tapi bingung untuk menyusun kata-katanya. Surat Bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Tapi aku ingin membalas dengan bahasa Indonesia saja, bahasa Ibuku. Aku tidak terlalu mahir bahasa Inggris.Aku akan membalasnya dengan keahlianku bersyair. Ya, bahasa sastra adalah bahasa jiwa. Bahasa hati seorang pujangga. sejak dulu aku senang dengan lagu-lagu yang bernilai sastra dan mengandung nasehat-nasehat agama, seperti lagu-lagu Haji Roma Irama. Dan ketika SMP dulu pun aku gemar mengumpulkan puisi-puisi  yang indah, kata-kata bijak dan syair kehidupan. Ah, aku yakin, aku akan bisa menulis sebuah syair balasan surat pink-nya. Aku ambil kertas putih pertengahan buku tulis. Aku memang tidak punya kertas cantik berwarna untuk surat menyurat, bagiku kertas buku biasa adalah simbol kesederhanaan. Pena Hitam yang tergeletak dilaci lemariku aku sambar. Tanganku agak gemetar, entah kerisauan apa yang mengalir dalam tubuhku. Darahku seakan memanas. Aku takut salah dalam menulis dan keraguan mulai muncul. Tapi segera ku tarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Ini kan surat untuk teman, bukan untuk pacar. Pikirku menenangkan getaran aneh yang meneror sekujur tubuh. Bismillah, semoga surat ini tidak mengandung dosa. Dengan perlahan kugoreskan pena itu diatas kertas putih, aku buat tarian yang indah dalam setiap geraknya. Dengan kehati-hatian dan mengerahkan jiwa seniku, akhirnya surat itu selesai, dan kubaca ulang.

Assalamu'alaikum wr.wb.

Untuk sahabat baikku.

Aku memang marah ketika aku dan kawan-kawan dipermainkan dan dipermalukan.
Sanksi yang pengurus OSPIA berikan memang terlalu berlebihan.
Tapi setelah pulang sekolah kami sudah memaafkan mereka.
Memang kemarahan adalah Api yang disulut setan.
Untuk menimbulkan permusuhan panjang dan pertengkaran.
Dan api kebencian akan sulit dipadamkan.
bila kita tak kembali dalam kesucian hati dan dalam asas saling memaafkan.
terima kasih atas perhatianmu kawan.
aku sudah lebih baik.
Laksana kasih sayang ibu,
sungguh sikap keras orang bijak lebih baik dari seribu kebaikan orang bodoh.
dan hati pemaaf adalah samudra yang luas.
tak akan pelit memberikan beberapa mutiaranya.
Dan aku berharap, Tuhan menjadikan hatiku sebagai lautan kasih sayang, kedermawanan, dan ilmu.
Dan semoga perjuangan kita dalam belajar di Madrasah ini, menghasilkan kebijaksanaan tanpa batas.
Aamiin.
Maafkan kalau tulisannya dan puisinya jelek...

from your Friend


Hariyanto

Degup-degup hatiku meningkat. Aku sampai gerah walau hanya menulis surat ini dalam satu halaman. Semoga dia mengerti dan tidak bingung dengan puisiku yang agak kacau ini. Aah, ternyata sulit menulis puisi dalam kondisi seperti ini.

Aku langsung lipat surat itu dan ku masukkan amplop surat biasa. Tak apalah, aku memang orang biasa. Setelah itu aku pergi ke kobong Dafi, dan memberikan amplop itu kepadanya. Dia heran, "Amplop kondangan buat siapa ini kak?? hehehe?" tanyanya sambil nyengir. "Alah kamu, masa buat kondangan. itu buat teteh yang ngirim surat pink tadi Dafi." "Emangnya, nggak malu kak? surat buat teteh cantik kok kaya gini? beli amplop surat anak muda dong kak. biar so sweet. hehehe." "Aaah, tidak usah, memangnya untuk pacar apa? dia cuma teman." kataku, pura-pura tiada rasa. "Teman apa teman??? hihihi.." Dafi sedikit meledekku. Aku cubit lengannya. dia mengaduh. "Jangan berpikiran macam-macam. Tugas kita adalah belajar dengan giat di pesantren ini. Kita tidak boleh punya pacar dulu. Nanti belajar kita terganggu. dan surat ini hanya untuk menghormati teteh itu." "Memangnya, siapa namanya kak?" "Aulia Cahaya." "Waah indah banget namanya, teh Aulia Cahaya, seperti wajahnya yang bercahaya." "udah ah, disimpan yang rapih. besok kasih dia. Jangan sampe ada yang tahu ya... untuk menjaga jangan sampe ada fitnah. dikiranya Kakak ada apa-apanya lagi. padahal kan cuma teman biasa." "Oke kak, sip. beres dah. Ongkosnya mana? hehehe" Dafi menedengkan tangannya. "Waah ni anak banyak maunya. Nih.." kataku sambil merogoh kantongku dan memberikan dua permen Kiss. Dafi nyengir, "Kok cuma ini?" "Mau tambahan?" kataku sambil mengepalkan tangan di depan mukanya. "Hehehe, ampun kak. becanda." "Hehehe... kakak juga becanda." "Oke, besok Dafi kirim." "makasih ya fi.." "Afwan kak."

Aku kembali ke kobongku dan makan siang...

Minggu, 12 Januari 2014

Surat Pertama Aulia

Surat Pertama Aulia

Surat Pertama Aulia

"Allahu Akbar Allahu Akbar," Adzan subuh berkumandang. aku baru bangun. Kepalaku agak pusing. mungkin karena masih ngantuk. aku duduk sejenak untuk mengusir kantuk yang masih menggelayut. setelah itu pergi ke kamar mandi. sayang sekali masih mengantri. ada anak MTs yang tidur lagi bawah pohon seri di dekat kamar mandi. aku kembali ke kobong. mengganti pakaianku dengan kain dan kokok. Aku pergi ke tempat wudhu di belakang majlis putih. ternyata kudapati santri putri sudah banyak yang berkumpul. aku berwudhu dan kembali ke kobong mengambil sajadah dan al-Qur'an. lalu ke majlis kembali. Ada Dion yang menghampiriku, "Kaifa haluk?" "Bikhair alhamdulillah." jawabku sekenanya. "gimana tidur ente malam ini sob?" tanyanya. "Alhamdulillah nyenyak Yon, sampe subuh. hehehe." "Alhamdulillah deh kalo gitu." "Kalo ente gimana tidurnya?" "Wah, kalo ane tidur percis bangke, bom meledak aja nggak bangun. hahahah" kami ngobrol sambil jalan ke majlis putih. masuk dan melaksanakan kegiatan seperti biasa.

Paginya, aku ke sekolah bersama teman-teman baruku. Dion, Reza, Nalim, Hilmi dan banyak yang lain. sampai di sekolah kami mendapatkan bimbingan dari kakak kelas tentang acara MOS. sering kami dikerjai oleh kakak-kakak kelas. dan yang paling berat buatku adalah ketika Aulia mencuri-curi pandang padaku. aku jadi salah tingkah. ketika istirahat aku berkumpul dengan teman-teman di warung Bi Imah, biasanya anak-anak seperti kami masih suka beli gorengan dan jajanan yang lain. ngobrol ngalor ngidul. sampai lupa waktu. ketika bel masuk. kami telat dan akhirnya di hukum oleh kakak kelas dengan jalan jongkok dari gerbang hingga masuk ruang acara. sontak saja para peserta MOS tertawa melihat kami. tak cukup sampai di situ kakak kelas memarahi kami habis-habisan dengan dalih tak disiplin. Katanya, sikap kami yang terlalu santai akan menjadikan emage Madrasah Aliyah As Salam akan tercemar. Dalih yang dibuat-buat dan berlebihan. padahal kami hanya telat lima menit. Acara demi Acara selesai dengan tanpa halangan. Zuhur kami pulang. berjalan bersama teman-teman melewati pesawahan.

"Kak Hary, tunggu." Suara Dafi memanggil dari belakang sambil berlari. "Ya ada apa Fi?" tanyaku. "Ini kak, dari teteh teteh." katanya sambil tersengal-sengal menyodorkan sepucuk surat berwarna pink. "Dari teh apa?" tanyaku heran. "Tidak kenal kak, pokoknya cantik orangnya." Dafi tersenyum. Jantungku berdebar. kawan-kawanku berdehem-dehem menggodaku. aku terkekeh hambar karena menahan malu. "Dari siapa tuuuh?? hehehe" tanya Dion menggoda. "Ah Privasi ane ini mah." jawabku sambil cengar cengir. "Waah Sudah ada yang naksir niiih?" Hilmi hendak mengambil surat di tanganku, aku tepis tangannya. "Sssst rahasia negara... bukan untuk dijual." kataku dengan gaya serius. "Iya deeeh, percaya orang ganteng mah.hahahah" sindir Reza, "Ane bukan ganteng Reza, tapi beruntung. hehehe yang ganteng ente, tapi kalo nggak laku, itu namanya mubadzir. hehehe" kataku membalas sindirannya.

Langkah demil langkah akhirnya sampai ke pesantren. aku letakan tas dan berganti pakaian. badanku berkeringat. aku kipasi dengan kardus bekas. setelah badan segar dan gerah hilang. aku mengambil surat pink dari saku celanaku. ini kali pertamanya Aulia mengirim surat padaku. aku sedikit gugup. entah apa yang kurasa aku tak tahu, semua menjadi satu. Aku buka surat itu dan kubaca,

for my friend

wait, yes brother Hary, not taken care of seniors punishment. they do not mean it. they are only meant to foster our students so they can become smart, agile and disciplined. did I see you as angry. so Aulia send this letter to encourage one another in goodness.

sorry if this letter disturb brother.

greetings friendship.

from your friend, Aulia Light ....


Ah, syukurlah. aku kira surat apa. aku jadi geli sendiri. ternyata dia temanku yang peduli dan perhatian.

Sabtu, 11 Januari 2014

Gadis Itu Bernama Aulia

Gadis Itu Bernama Aulia

Seusai wiridan, kami para santri melakukan kegiatan rutin, yaitu tahfidz al-Qur'an. setengah juz kami membaca bersama. selesai jam 6 pagi, para santri berhamburan keluar dan mulai sibuk dengan kegiatan selanjutnya, ada yang berlari ke kamar mandi, ada yang menyempatkan diri untuk mencuci baju, ada pula yang berjalan-jalan di pesawahan di depan pesantrean dan bermain bola di lapangan. sedangkan aku yang telah membuka kokoku dan berjalan ke kebun di samping majlis dengan memakai kaus hitam santaiku. aku berjalan ke bawah pohon mangga tempat biasa aku merenung. di bawah pohon mangga itu ada batu sebesar kepala kerbau yang memang sebagai langgananku duduk-duduk sendiri. aku lebih senang menghafal al-Qur'an dan kitab-kitab di situ. lebih khusyu'. dan kadang kenangan masa laluku kembali dalam lamunanku.

Burung-burung bernyanyi di pagi yang cerah itu. dan embun bening pun menetes di bawah daun-daun pisang dan jeruk nipis. aku terpesona akan indahnya pagi dan aku terbang ke masa ketika aku pertama berangkat pesantren. Keluargaku mengantar, dan mereka melepasku dengan setitik air mata yang disembunyikan. wajah ibu yang mulia, dan adik-adik yang menciumku. betapa perpisahan yang mengharukan. dan aku bertekad dengan kuat ketika aku melihat baleho yang bertuliskan kata super, berwarna hijau, Lau kana nurul ilmi yudroku bil muna. makana yabqo fil bariyyati jahilun. Jika saja cahaya ilmu bisa di dapat dengan cara berkhayal, maka tiada orang bodoh di dunia ini. kata-kata itu seakan menyetrum hatiku dan seakan jadi cambuk hati untuk menggapai cahaya ilmu. ah kenangan yang indah dan awal yang mengesankan.

kenangan itu seakan kembali dipelupuk mataku. ketika aku melangkahkan kaki ke pesantren dan berkenalan dengan teman-teman baru baik yang lebih tua atau yang lebih muda. betapa banyak anak baru yang nangis berjamaah, terutama yang masuk kelas satu tsanawiyah. wajar sekali mereka menangis. tapi aku tidak akan menumpahkan air mata walau hati membiru haru. akan kujadikan perpisahan ini sebagai power yang dahsyat untuk mengejar cita-cita dan menghancurkan karang kebodohan dan berhala kehinaan.

Terkenang kembali ketika pertama kali kami shalat jamaah di majlis putih dan pak Kyai memberi sambutan pertamanya kepada santri baru dan berpesan kepada semua santri yang lama. bahwa Imam Syafii pernah bersyair. saafir tajid 'iwadhon 'amman tufaarikuhu, wanshob fainnalladzidzal 'aisyi finnashobi. Bermusafirlah, niscaya kau akan mendapatkan pengganti orang-orang yang telah kau tinggalkan. dan bersusah payahlah karena kenikmatan hidup itu terletak pada bersusah payah. nasehat yang begitu berkesan dan kuat memotivasi seluruh santri untuk belajar dengan giat dan bekerja keras. beliau juga memberikan pengertian tentang arti kata santri dan pesantren. dari kata santri yang disingkat sanggup antri dan juga santri yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti san itu sempurna dan tri itu tiga, jadi santri itu harus punya tiga kesempurnaan yaitu sempurna ilmu, sempurna akhlak dan sempurna ibadah.

Aaah kenanganku berlanjut ketika saat aku ingin keluar dari majlis karena ingin buang air kecil. aku sudah tak tahan. dan karena aku duduk di barisan dekat tempat wudhu, aku langsung keluar dan terburu-buru ke belakang, karena aku setengah berlari, akhirnya hampir saja aku bertabrakan dengan santri putri yang hendak ke kobong. dan ketika itu mataku dan matanya bertemu, cantik dan anggun, itu yang bisa aku rasakan pada kesan pertamaku melihat gadis itu. aku meminta maaf dan lalu ke kamar mandi.

Virus-virus cinta pun pada malam harinya menjadi pengganggu tidurku. wajah teduh gadis segar itu selalu terbayang. senyumnya yang menawan ketika aku salah tingkah di depannya dan meminta maaf membuatku tak bisa memejamkan mata. Ah penyakit cinta memang penyakit pemuda. beberapa kali aku menepis bayangnya aku tak bisa. aku ambil wudhu dan membuka ayat-ayat al-Qur'an tetapi wajahnya malah terbayang dalam tiap lembar halaman yang ku pandang. bahkan ketika aku berusaha menghilangkan bayang padanya dengan menulis arab, malah seakan pena yang kupegang menjadi langkah-langkah anggunnya.
Ya Tuhan, aku bisa gila. dulu waktu aku masih ingusan dan belum mengenal cinta, aku biasa saja melihat gadis secantik apapun. dan ketika aku masuk aliyah, cinta datang pada pandangan pertama. aku kehabisan akal dan akhirnya aku bersujud diatas sajadah dan menangis kepada Tuhan agar menghilangkan bayang-bayang gadis itu. memohon ampun telah melihat wanita yang bukan muhrim hingga tersiksa dalam bayang-bayang pesona gadis yang indah bak bidadari. air mataku menetes diatas sejadah cintaku. dan perlahan kepalaku seakan ada hawa sejuk dan menjalar ke hati. dan bayang gadis jelita itu mulai memudar. dan aku mengucap hamdallah.

malam itu aku terlelap dalam mimpi yang indah. bangun subuh bersama dengan para santri yang lain. kehidupanku sedikit berubah, rasa malas yang di rumah sering bergelayut kini mulai berubah menjadi semangat beribadah dan menuntut ilmu. melatih kesabaran dengan hidup yang jauh dari orang tua. mengantri di kamar mandi, bertemu dengan anak-anak nakal buangan putus asa orang tuanya, dan hingga bergelut dengan kitab-kitab kuning yang mengasyikkan.

Ya Allah, kenangan itu kembali lagi. kala aku masuk madrasah aliyah hari pertama. dan persiapan MOS, masa orientasi siswa. aku kembali bersua dengan gadis manis itu. ternyata dia juga anak baru. dan akan menjadi teman sekelasku. ya Robb, akankah aku kuat menahan rasa ini. saat bertemu dengannya aku menunduk. aku sungguh malu padanya. aku tak kuat mengangkat kepala. takut nanti malam kembali susah tidur. aku sengaja menjauh dari jalan yang ia lewati, dan ternyata, dia malah memanggilku, "Kak, maaf." suaranya begitu halus. aku tak berani menoleh. aku masih menunduk membelakanginya. "Ya ada apa?" kataku agak ketus. "Kemarin, saya minta maaf jika membuat kakak kaget. saya harap kakak memaafkan saya." katanya dengan memelas. "Oh tidak, saya yang salah. kamu tidak salah. maafkan saya." "ya sudah kita saling memaafkan ya kak, oya kakak namanya siapa?" tanyanya. dia menanyakan namaku. hatiku hampir copot. dan aku sangat kaget dan langsung berbalik dan menatap wajahnya yang teduh. dan cesss, hatiku seakan disiram air es. matanya begitu indah. dan senyumnya adalah nuansa ribuan ilham puisi. "Namaku Haryanto," jawabku agak gugup. "Oh kak Hary, perkenalkan saya Aulia Cahaya." katanya sambil menengkupkan tangannya di depan dada. aku pun melakukan hal yang sama. dan aku tak kuat lagi menahan suasana hati yang berjuta rasa. dan aku langsung pamit padanya dengan beralasan ada sesuatu yang harus aku selesaikan. dan aku meninggalkannya dengan mengucap salam. dia menjawab salamku dan tersenyum manis. entahlah, aku tidak bisa menafsirkan senyuman seorang gadis.

Pulang dari Madrasah, dan mengikuti kegiatan pengajian di pondok pesantren hingga malam. ketika aku merebahkan diri di tempat tidur dan memegang buku dan pena hitam. prediksiku benar, bayang-bayang gadis itu kembali hadir, suaranya yang merdu terngiang-ngiang di telingaku. dan tanpa kusadar. kutulis suatu nama di atas kertas putih itu, {Aulia Cahaya}...dan entah kenapa kepalaku terasa berat setelah aku menulis beberapa puisi yang terilhami dari kecantikan paras gadis itu. dan aku langsung tertidur.

Jam 12 malam Saiful membangunkanku. katanya ia lapar. aku antar ia ke kantin ternyata sudah ditutup. aku kasihan melihat Saiful kelaparan. aku masuk ke kobong sebelah dan membangunkan Dodi yang biasanya punya mie rebus. aku beli dua dan aku langsung memasaknya dengan kayu bakar di belakang dapur pesantren. di kebun. setelah masak aku dan iful makan bersama. aku melihat senyum terkembang dibibirnya. ah, senangnya bisa sedikit menyenangkan orang. terkadang soal perut kita tidak bisa main-main. orang kalau sudah lapar bisa nekad. banyak orang mencuri karena masalah perut lapar.

Aku teringat, kisah Sarman waktu aku kecil dulu. dia anak yatim. ibunya bekerja serabutan, kalau panen ibunya ikut menuai di sawah orang. Kadang ngoyos, nandur dan lain sebagainya. jika tidak ada pekerjaan sering Sarman dan ibunya kesulitan makan, apalagi waktu krisis moneter. untung saja .Sarman diijinkan oleh petani kebun untuk mengambil singkong di kebun. berbulan-bulan hanya makan singkong, kadang direbus, digoreng, atau bahkan begitu saja di masukkan dalam tabunan sekam. Sarman biasanya punya akal untuk bisa makan nasi yang enak, dia suka mengajak Nanda gadis kecil anak Haji Gofur bermain. Mendekati anaknya agar dapat nasi. selalu saja ada akal agar Nanda mendekatinya. pernah ia membuat baling-baling dari daun kelapa. ketika melihat itu Nanda mendekat dan meminta baling-baling itu, "Buat Nanda ya baling-balingnya?" Pinta Nanda. "Wah sayang ah, baling-baling bagus ini." Sarman pura-pura jual mahal. "Udah buat Nanda aja kak." pinta Nanda lagi dengan gaya anak orang kaya yang manja. "Kalo mau baling-baling ini, kamu harus pulang dulu sana, ambil dua bungkus nasi. Nanti kita tukaran." tawar Sarman. Nanda langsung berlari gesit ke rumahnya dan kembali, tetapi tidak membawa apa-apa. Sarman kecewa. "Kak Sarman, kata ibu kakak disuruh kerumah. makannya di rumah saja kata ibu." kata Nanda polos. Sarman langsung berseri dan memberikan baling-baling itu ke tangan Nanda. Nanda jejingkrakkan kegirangan. di rumah Haji Gofur Sarman makan nasi dengan lahapnya. ibu haji pun memberikan lauk pauknya yang enak-enak. Mungkin merasa kasihan dengan anak yatim di kampungnya yang sudah lama tidak makan nasi. dan terlantar dalam belitan ekonomi sulit.

"Kak kita tidur lagi yuk?" ajak Saiful, mungkin setelah perutnya kenyang ia mulai mengantuk. "Hayuk," jawabku. kami berjalan ke kobong dan kembali merebahkan diri di kasur lipat. Bayang Aulia kembali mengusik, segera kutepis dengan istigfar. aku pejamkan mata kembali dengan doa.

Minggu, 05 Januari 2014

Langkah Pertamaku

Langkah Pertamaku

Langkah Pertamaku

Langkah Pertamaku
Aku ke luar dari kobongku, angin berhembus sangat dingin. seperti dingin angin gunung. aku berjalan melangkah ke sumur santri putra yang berada di belakang dapur pesantren. suara sendalku beraturan laksana ketukan seorang penabuh rebana. kegelapan menghantui kebun belakang di dekat kamar mandi santri, aku menengok ke arah gelap yang tanpa lampu yang menerangi. seakan pohon kelapa itu melambaikan daun-daunnya. dan aku mengacuhkannya. aku teruskan langkahku untuk memasuki kamar mandi yang di sekat menjadi empat ruang. kamar mandi yang sederhana. sesederhana para santri salafiyah yang tinggal di pesantren-pesantren tradisional.

setelah buang hajat dan berwudu, aku keluar kamar mandi dan melangkah dengan santai ke kobong ku lagi. waktu kubuka pintu yang berdenyit. Saiful terbangun, "Sudah jam berapa kak?" tanyanya. "Baru jam 3 dini hari." jawabku. "Kakak mau ngapain?" tanyanya lagi. "Kakak mau shalat tahajud, kamu mau ikut?" ajakku. "Nggak kak, dingin banget, nanti saja kalo cuacanya tidak musim dingin seperti sekarang. "Ya sudah." kataku dan Saiful anak kelas satu MTs itu kembali menarik selimut merah gambar Spongebob. cuaca memang dingin, tapi aku ingin menjadikan saat ini sebagai waktu yang sangat berharga dalam detik-detik hidupku. bersujud kepada Allah, kala manusia kedinginan dan terlelap tidur.

aku ambil kain hijauku, dan aku pakai baju koko putih dan peci putih. Sajadah hijau aku selendangkan ke pundak kanan. aku melangkah menuju majlis pesantrenku. sekejap aku melirik ke atas. aah, aku melihat bintang-bintang berkerlipan. indah mempesona. langit ternyata begitu cerah. seakan awan-awan tak mau menghalangi doa-doa antara langit dan bumi. "waktu yang tepat untuk bermunajat," bersit hatiku. kukembali melangkah ke dalam majlis, dan memasuki majlis yang cukup luas itu, dengan keramik, tembok dan anternit berwarna putih. seakan di dalam alam putih bersih.

Aku gelar sajadah hijauku dan aku takbir untuk shalat sunnah, setelah fatihah aku pilih surat annur: 35, aku tenggelam dalam maknanya dan seakan terbang ke alam bahagia..rakaat kedua ku pilih surat al-waqi'ah dan aku seakan bertemu dengan keindahan surga dan bidadari-bidadarinya.

Usai salam aku tenggelam dalam munajatku. bertaubat atas segala dosaku dan mengharapkan setetes karunia-Nya. aku berharap dan memohon akan keberkahan ilmuku. dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain kelak ketika telah terjun ke masyarakat.

aku bangun dari dudukku, setelah itu shalat witir 3 rakaat. dan terus membaca beberapa ayat al-Qur'an. walau sedikit aku berusaha untuk menyempatkan diri membacanya. aku teringat akan pesan guru mahfuzhotku. khairul umuri ausathuha. sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. biar sedikit beramal asal istiqamah. kenangku akan kata-kata sang guru.

usai shalat aku kembali ke kobongku. aku membangunkan teman-teman dan adik kelas yang satu kobong denganku. dan ternyata di kobong lain. para murabbi juga sedang bertugas membangunkan anak-anaksantri untuk persiapan shalat subuh berjamaah di majlis pesantren. beberapa anak telah bangun dan bergegas ke kamar mandi. ada beberapa anak yang tidur lagi dan susah untuk dibangunkan. beberapa kugoyangkan tubuhnya tidak juga ia mau bangun. aku bingung bagaimana membangunkannya, tiba-tiba datang seorang ustadz yang terkenal cukup killer di kalangan pesantren yang membawa sebatok air dan byuuuuur. beberapa anak yang masih tidur itu disiram wajahnya dan langsung terbirit-birit ke kamar mandi. "Beginilah cara efektif membangunkan santri yang malas." kata ustadz Fahmi yang sambil keluar kobong. aku hanya tersenyum saja melihat anak-anak basah kuyup. disiplin yang hebat. kata hatiku. aku selalu belajar memahami dalam berbagai peristiwa. Tapi rasa kasihanku berkata, tidakkah ada cara lain yang lebih mengena selain ini? pikiranku berputar.

"Ka Hary," ada suara yang memanggilku, aku menengok kesamping, ternyata Hakim. "Ada apa Kim?" tanyaku. Dia mendekat dengan pakaian yang sudah rapih untuk jamaah subuh. "Ka, boleh minta tolong nggak?" "tolong apa?" tanyaku. "Tolong bantuin saya kak?" katanya agak malu-malu. Hakim memang adik kelasku di Aliyah yang sejak datang ke pesantren sudah akrab denganku dan ia menganggap diriku kakak angkatnya. "Tolong bantuin kak, saya pusing?" katanya lagi. "iya bantuin apa dulu?" tanyaku agak gregetan. "Anu kak, ini, kesini kak, saya malu!" katanya sambil menarik lenganku ke sudut kobong yang agak sepi, sepertinya ia mau mengatakan sebuah rahasia. "Tolong bantuin membalas surat Cinta kak, dari Santri putri. saya pusing kak." katanya sambil membisiki telingaku. "Hahaha, ada ada saja kau ini Kim, masa balas surat cinta dari seorang gadis kok minta bantuan kakak sih. jawab aja, iya saya terima, atau maaf ya, saya tidak bisa terima, beres kan? gitu aja kok repot." ledekku dengan gaya GusDur.

"Iiih, kak Hary mah ngledek melulu. isi suratnya rumit. secara tidak langsung ia menyatakan cinta. tapi saya bingung jawabnya." "Lah, sampean suka nggak?" selidikku. Wajah Hakim berubah memerah, sambil menunduk, "Sebenernya saya juga suka kak, tapi saya mau fokus belajar. kan saya ingin jadi seorang ustadz kelak di kampung." aku membaca kegalauan hatinya dari raut muka dan cahaya matanya. "Baiklah, nanti kita bahas lagi setelah shalat subuh dan tahfidz Qur'an." kataku. "Alhamdulillah, terima kasih kak. Ayo kak, kita ke Majlis. anak-anak yang lain sudah kumpul mau subuh." ajaknya. Aku dan Dia berjalan ke Majlis pesantren yang bercat putih itu. para santri yang menunggu membaca shalawat bersama-sama.

"Ilaahiilastu lil firdausi aahlaa... walaa aqwaa 'ala naril jahiimi...
fahabli taubatan waghfir dzunuubi, fainnaka ghoofirudzdzambil 'azhiimi....."

Aku dan Hakim shalat qobliyah subuh. bersebelahan. kadang ada saja teman hakim yang menggodanya dengan menatap Hakim yang shalat dengan dengan wajah di lucu-lucukan. Hakim pun tak kuat dan membatalkan shalatnya lalu menjewer temannya itu sambil terkekeh, "Anta Ifriith". santri yang berdekatan dengan teman hakim yang nakal itu tak kuat menahan tawa, ketika temannya itu dikatain "Kamu (jin) Ifrith"
Hakim pindah shalat di samping kiriku. aku sempat tersenyum dan menahan tawa ketika hakim menjewer temannya. sungguh shalat khusyu' itu memang sangat sulit. apalagi bagi santri yang baru satu tahun di pesantren dan baru belajar sedikit pengetahuan agama. setelah para santri telah berkumpul, dan iqamah dikumandangkan, kami semua berdiri tegap dan lurus laksana tentara yang hendak berperang. yang menjadi Imam Pak Kyai, dengan suara bacaan al-Qur'annya yang merdu dan tartil, kami semua tersihir dalam ayat-ayat Allah. menambah kecintaan kami kepada al-Qur'an. Usai shalat, kami semua wiridan. santri putra ada 3 shaf, santri putri berada dibelakang hijab hijau yang membatasi kami juga ikut zikir bersama.

Aku melirik kiri dan kanan, ada saja santri yang tidak wiridan dan manggut-manggut karena ngantuk. Pak Kyai Ahmad Shobirin, sering menyindir anak santri yang suka ngantuk dan tak ikut wiridan dengan ungkapannya, "Man taroka wirdan fahua qirdun, barangsiapa yang meninggalkan wiridan maka ia monyet." para santri biasanya tertawa tertahan bila pak kyai mengatakan itu, karena merasa kalau wirid subuh suka mengantuk. suasana pesantren memang begitu berkesan bagi para santri yang betul-betul menghayati kehidupan penuh aktifitas keilmuwan di pondok.