Powered By Blogger

Minggu, 30 Maret 2014

Potret Kala Senja di Ma'had

Riska Fadhilah
Potret Kala Senja di Ma'had

Alhamdulillah, mars santri As-salam ciptaanku lumayan buat kenang-kenanganku nanti bila aku pulang. Aku ingin berbagi dengan teman-teman santri yang mungkin juga punya talenta dalam bidang seni suara. Jujur saja, aku tak mahir dalam dunia tarik suara, dan temanku mungkin ada yang punya suara bagus hingga mars santri ini bisa di nyanyikan dengan lebih baik. Aku ajak Nalim menyenandungkan laguku ini, tapi Nalim menolak, aku ajak Dion tapi ia juga menolak. Yah sudah, aku simpan saja lagu ini mungkin suatu saat nanti ada yang mau mempopulerkannya. Hidup memang tak selamanya indah dan mudah. Butuh perjuangan yang panjang dalam menapakinya dan menghiasi langkah-langkahnya dengan usaha keras dan selalu mencoba untuk terus berkarya, walau terkadang karya kita tak selalu mendapat respons yang baik.

Aku bangun dari duduk silaku, lalu melangkah ke arah utara untuk kembali ke kobongku. Sampai ke kobong aku melihat Lurah pondok Kang Gunawan berteriak-teriak di depan kobong.
"Seluruh santri, yang sore hari ini piket, segera piket! Daftar piketnya sudah saya tempel di tiap-tiap pintu kobong, harap semuanya bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Laksanakan!"
Para santri yang berkumpul di hadapan Kang Gunawan segera bubar dan melihat jadwal piket masing-masing. Aku pun melihatnya sambil berdesak-desak dengan teman-teman sekobongku. Aku lihat Hari kamis dengan daftar nama santri yang piket. Hariyanto, namaku ada di jadwl piket hari ini. Kutaruh kitab-kitabku dan kuganti pakaian. Aku hanya mengenakan kain dan kaus biru serta dengan peci putih di kepala. Aku keluar kobong dan mengambil sapu dan pengki yang ada di bawah pohon mangga di depan kobong. Ada beberapa teman sekobong dan santri kobong lain yang juga piket. Mereka menyebar ke berbagai titik halaman yang banyak sampai daun-daun yang berserakan. Aku melangkah ke depan majlis putih. Dengan sapu lidi dan pengki yang terlihat masih baru itu, aku menyapu dedaunan yang kering itu. Misbah menghampiriku. Dia adik kelasku, Kelas 3 Mts. Dia sudah tiga tahun di pesantren ini, ilmunya sudah cukup mumpuni. Dengan senyum ramah dia menyapaku.
"Kak Hary, mari piketnya bareng saya, saya tidak kebagian pengki, biar saya yang buang sampah dan kak Hary yang menyapu." pintanya. Aku serahkan pengki yang ada di tangan kiriku. Dia menerimanya.
"Baiklah, kerjasama yang baik, akan menjadikan pekerjaan berat terasa ringan." kataku. Misbah tersenyum sambil mengacungkan jempol. "Betul kak, kata-kata yang cukup bijak. hehehe.."
"Biasa saja. itu juga boleh nemu di jalanan.. heheheh..." kataku sambil menyapu dedaunan yang bercampur debu di depan majlis itu. Misbah menimpali lagi.
"Tapi memang apa yang dikatakan kakak itu benar, pepatah arab mengatakan, al ittihaadu quwwatun, persatuan adalah kekuatan, satu lidi tidak akan mampu membersihkan sampah dedaunan ini, tapi bila seratus lidi diikat oleh tali persatuan, dan digunakan sebagai sapu, maka hasilnya bisa kita lihat sendiri, ia bisa membersihkan halaman yang cukup luas ini."

Aku terkesima dengan kebijaksanaannya diwaktu muda seperti ini. Seakan aku menyesal mondok di usia yang sudah masuk tingkat aliyah atau SMA seperti ini. Jika saja aku pesantren sejak 1 MTs seperti Misbah, pasti aku pun telah banyak menyerap kebijaksanaan sepertinya. "Ada tidak perumpamaan selain dari sapu ini Bah?" tanyaku.

"Banyak kak, jika satu ranting ini," Misbah mengambil ranting kayu kecil yang ada di tanah, "dan kita patahkan, maka mudah sekali kita mematahkannya." Misbah mematahkan ranting itu. "Tapi, jika lima ranting kita satukan, maka sulit untuk dipatahkan. dan inilah yang namanya kekuatan." Misbah mengambil lima ranting yang ada di bawah dan dengan sulitnya ia mematahkan semua ranting itu secara bersamaan. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." tambahnya.
"Subhanallah, kau benar Bah. ini sampahnya sudah kumpul, kau buang ke tempat sampah di belakang sana.!" kataku. Misbah menurut dan mengeduk sampah itu. Lalu mengumpulkannya di tong sampah. Setelah kumpul ia mengangkat tong itu dan karena badanya agak kurus, ia tak kuat. Aku mendekatinya dan mengangkatnya bersama-sama. "Kerjasama yang baik, akan menjadikan pekerjaan berat, terasa ringan. hehehe" kataku mengulangi ungkapan yang terdahulu. Misbah tertawa kecil sambil mengangguk mengiyakan. aku angkat tong sampah penyu warna hijau itu bersama misbah menuju ke belakang Pesantren. Sampah-sampah itu cukup berat. Beberapa meter aku dan Misbah tak kuat dan mengistirahatkannya sejenak. Sampai ke belakang pesantren, kubuang sampah itu di sana. Tiba-tiba dari arah kobong santri putri terlihat juga dua gadis yang membawa tong untuk membuangnya juga.

Aku sempat terkejut, karena dua gadis itu tiada lain, ialah Aulia dan Riska. Riska adalah teman sekelas Misbah. Aku sedikit gugup, tapi segera mencair setelah Misbah menanyakan sesuatu pada Riska.
"Ris, nanti malam jadi muhadoroh kan?"
Riska Fadhilah tersenyum manis dan menjawab, "Iya, santri putri sedang latihan untuk tampil nanti malam. Kalau santri putra sudah pada siap belum bah?"
"Sudah, kalau santri putra sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari." jawab Misbah. Aku hanya diam saja menatap Riska dan Aulia. Aulia tersenyum dan ikut nimbrung, "Bagus deh, kalau sudah siap sejak lama, kata orang, Naik tanpa persiapan, turun tanpa penghormatan. Jadi dalam tugas apapun, apalagi muhadoroh, segala sesuatunya harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Batul kan? kak Hary.." Aulia berpaling padaku dan bertanya. Aku mengangguk dan merunduk, "Iya betul Aulia. Sesuatu yang dipersiapkan dengan serius, akan menuai hasil yang maksimal."
"Betul banget kak Hary, Kak Hary nanti malam mau tampil nggak?" Riska memotong.
"Oh, Tidak Ris, Kak Hary masih belum bisa apa-apa, dan masih harus banyak belajar." jawabku.
"Ya sudah, nanti malam kita laksanakan acara muhadhoroh dengan sebaik-baiknya. Dan insya Allah ada selingannya juga. Mari Teh Lia, Ris, saya dan kak Hary harus mandi dulu, sudah sore." kata Misbah.
Mereka berdua mengangguk dan pergi, Aulia tersenyum manis sekali, matanya berbinar penuh makna. Aku menenangkan detak jantungku yang cepat. Kibaran gelombang jilbab dua gadis itu sungguh anggun. Langkah mereka santai. Aku dan Misbah kembali ke kobong dengan menenteng alat kebersihan itu dan meletakkannya di tempat semula. Mentari petang menguning, awan yang menggunung bertumpuk-tumpuk memantulkan cahaya kuning kemerahan. Beberapa burung peking berkejaran di udara diatas pesantren As Salam yang damai. Aku masuk ke kobong dan mengambil alat mandi dan handuk. lalu kulangkahkan kakiku ke kamar mandi di belakang dapur pesantren. Beberapa santri mengantri sambil mengobrol.

Setelah mandi aku bersiap ke majlis untuk sholat maghrib berjamaah. Santri yang masih kecil biasanya dengan riangnya berlari-lari ke majlis sambil mendekap al Qur'an. Santri putri berjalan berkelompok dengan gaun putih mukenanya, sambil tertawa-tawa kecil dengan teman di sampingnya. Terlihat pak Kiai Ahmad berjalan di halaman depan rumah sambil memutar-mutar tasbih. Penampilan beliau seperti pangeran Diponegoro, memakai baju dan surban putih. Gagah sekali. Aku selalu merasa segan kepada beliau, karena pancaran kharismanya yang kuat. Namun begitu, beliau terkenal sebagai kiai yang tawadhu' dan ramah. Selalu menghormati tamu yang datang, tanpa pandang status sosial sang tamu. Misbah pernah bercerita bahwa, Kiai Ahmad pernah menyuruh menunggu pak Bupati yang bertamu karena masih mengajar ngaji. Beliau terkenal sebagai kiai yang mencintai ilmu dan gemar mengajar. Bahkan katanya, ketika sakit pun beliau sering memaksakan diri mengajar walau hanya sebentar. Banyak teladan yang aku ambil dari beliau.

Aku melangkah ke majlis dengan santrai. Lalu masuk dan duduk sambil tadarusan sedikit. Beberapa santri juga bertadarus. Hingga adzan Maghrib berkumandang.

Kamis, 27 Maret 2014

Pengajian Ilmu Alat

Pengajian Ilmu Alat
Alex Iskandar

Setelah sekitar setengah jam aku tidur siang, aku dibangunkan Nalim untuk persiapan sholat ashar. Mataku terasa masih ngantuk sekali. kepalaku pusing. Aku duduk sejenak untuk menyegarkan pikiran dan mengusir ngantuk yang menggelayut. Setelah agak segar, aku bangkit ke kamar mandi, lalu berwudhu dan bersiap sholat ashar. Aku mengambil kitab Jurumiyah dan Matan Bina, Kitab pemula untuk santri yang baru mulai mengaji. Kitab Jurumiyah berwarna hijau, Matan bina berwarna merah. Aku samber juga pulpen hitam merek standar, tak lupa aku membawa buku catatan, untuk menulis pelajaran dan hal-hal penting. Ustadz Fahmi pernah mengatakan, al ilmu shoidun, walkitabatu qoyiduhu. Ilmu adalah binatang buruan, dan ikatannya adalah tulisan. Otak kita memang memiliki kapasitas memori yang luar biasa. Tapi ada kalanya al insanu mahallul khottho'i wannisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kalau mengingat plesetan ust. Syukron, Manusia itu asal kata dari Man dan Nusia, Man artinya wong atau orang, Nusia artinya kang den laliakeun atau yang dilupakan, jadi manusia jika di artikan dengan bahasa Arab berarti ORANG YANG DILUPAKAN. Kita sering lupa siapa kita, dari mana kita dan untuk apa kita sebagai manusia ini diciptakan. Jadi perlu sekali ketika belajar kita membawa buku catatan. Catatan kecil sangat berguna ketika guru mengeluarkan statement yang penting untuk ditulis.

Setelah siap segala sesuatunya, aku melangkah keluar kobong menuju majlis untuk sholat ashar dan mengaji kitab. Matahari masih terang menguning di arah Barat. Condong menyinari pipi kananku. Suara dedaunan yang gemerisik di terpa angin. Beberapa santri berlari dari kamar mandi ke kobong, ada pula yang sudah berjalan ke majlis dan santri putri pun berjalan dengan anggun memakai mukena putih-putih. Inilah suasana di kota santri yang dulu pernah kudengar. Santri-santri yang mendekap Qur'an di dadanya, pergi mengaji dengan busana yang islami. Suasana yang indah dan sangat kontras dengan suasana di kota-kota besar yang mudah ditemukan wanita-wanita dan pria yang memakai busana yang macem-macem, hingga aku pun tak hafal model bajunya, ada baju model sundel bolong, model baju keponakan, model lejing, model pensil, model gembel dlsb. Pesantren bisa dibilang tempat yang ideal dalam mempraktekkan ajaran dan nuansa islami. Ada yang bilang pesantren adalah penjara suci, orang memang banyak berbeda perspektif dalam memandang pesantren, tapi menurutku pesantren adalah taman surga, ada yang bilang pesantren sarang teroris, yang bilang teroris itu siapa? kalau Amerika, Aku tanya lagi, Amerikat itu siapa? Kalau Anda bilang polisi dunia, saya tanya lagi, apakah polisi dunia berhak untuk mencap pesantren sebagai sarang teroris. Kalau Amerika mengatakan pesantren sarang teroris, Indonesia sarang teroris, lantas Amerika itu sarang apa? Apa anda bilang sarang macan. Kita harus banyak mengkaji Amerika itu tangan penjajah, atau penjajah sungguhan. Simplenya, Jika santri dituduh maling oleh rampok, apa anda langsung percaya, apalagi yang dituduh maling itu anak anda sendiri, terus anda gebukin anak anda sampe mati, sedang rampok sungguhan tepuk tangan dan memuji anda sebagai pahlawan dunia. Terus anda bangga telah membunuh anak anda sendiri yang sebenarnya bersih tak bersalah. Memang kita harus banyak belajar tentang salah dan benar, tapi selain tahu kebenaran, kita juga harus bijaksana dan berhati-hati akan tipu daya musuh. Yang perlu dicatat, Indonesia memang bangsa yang hebat, terkenal sejak dulu, dan anak-anak Indonesia memang pintar-pintar dan cerdas-cerdas, tapi Negara yang sinis pada Indonesia akan terus berupaya menjatuhkan mental kita dan terus ketakutan akan kebangkitan dunia Timur yang dipelopori orang-orang Indonesia. Makanya sejak dulu kita diadu domba.

Aku masuk ke majlis dan meletakkan kitabku di rak buku di pinggir majlis. Kuambil al Qur'an dan kubaca beberapa ayat. Adzan berkumandang, kami bersama-sama melaksanakan sholat qobliyah ashar yang sudah menjadi kebiasaan di pesantren, melaksanakan sholat sunnah rawatib. Lalu para santri baik putra maupun putri melantunkan bait syair Abu Nuwas,

Ilaahiii lastu lilfirdausi ahlaa walaa aqwa 'alannaril jahiimi
fahablii taubatan waghfir dzunuubi fainnaka ghoofirudzdzanbil 'azhiimi

Kubaca dengan penghayatan, sungguh arti dari munajat abu Nawas ini sangat menyentuh dan cerdas. Ust Ali pernah mengartikan munajat ini yang artinya, Oh Tuhanku, aku bukanlah penghuni surga firdaus, namun aku tak kuat masuk neraka Jahim. Maka terimalah taubatku dan ampuni dosa-dosaku. Karena Engkaulah yang Maha Mengampuni dosa-dosa besar.

Pak Kiai Ahmad Shobirin datang. Aroma minyak wanginya tercium. Beliau Shalat qobliyah dan iqamat pun dikumandangkan. Semua santri berdiri. Merapatkan shaf dan meluruskan pundak. Pak Kiai selalu mengingatkan untuk meluruskan shaf agar mendapat kesempurnaan sholat. Mengingatkan pula bahwa setan masuk melalui sela-sela barisan. Semua santri telah rapi dan pak kiai memulai takbir, diikuti para santri. Sholat pun terlaksana dengan khusyu' dan khudhu'. usai salam kami semua wiridan dan doa yang dipanjatkan pak Kiai. Setelah itu para santri bersalaman dengan pak Kiai. Pak kiai pulang ke rumah dan pengajian dimulai. Pengajarnya biasanya dipegang oleh Ust. Fahmi. Beliau cukup matang atau cukup ngelotok dalam penguasaan kitab Nahwu dan Shorof. Pengajian dimulai diikuti santri putra dan putri. Dengan penjelasan yang tenang ust Fahmi mengajarkan ilmu alat itu, semua santri menyimak dengan khusyu', kecuali santri baru yang kecil-kecil, biasanya mereka ketiduran dan ust. Fahmi memakluminya. Nanti jika telah terbiasa mereka akan kuat mengaji satu jam tanpa tidur, karena biasanya jika telah sebulan bagi yang tidur ketika mengaji ada sanksi tertentu yang akan membuat mereka jera, itu pernah disampaikan padaku diawal perkenalanku dengannya di pesantren.


Aku mencatat beberapa hal penting tentang ilmu nahwu shorof, inilah catatannya:

Ilmu itu pengetahuan tentang sesuatu.
Nahwu Shorof adalah ilmu alat atau ilmu yang dipergunakan untuk membaca kitab gundul.
Nahwu adalah ilmu grammer atau tata bahasa Arab, sedang Shorof adalah ilmu perubahan kata.
Jika ingin mendalami semua ilmu agama atau Islam, kuncinya ada pada ilmu alat ini.
Ilmu alat akan menjauhkan kita dari kesalahan memahami teks bacaan Arab.
Ilmu Nahwu dan shorof itu adalah bapak dan ibunya ilmu.
Kitab awamil dan jurumiyah adalah kitab dasar, sedang masih banyak kitab yang harus dikaji dengan serius, diantaranya, kitab Imrithy, Mulhatul i'rob, Alfiyah ibnu Malik, Mutammimah jurumiyah, Alfiyah ibnu Aqil, dan banyak yang lainnya.
Ilmu agama itu banyak, Selain nahwu shorof, santri akan juga diajarkan ilmu balaghoh, Badi', Manthiq, Tauhid, Tafsir, Hadits, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu lainnya yang jumlahnya 12 fan ilmu.
Jika ingin jadi ustadz, minimal 8 tahun pesantren.
Jika ingin jadi kiai minimal 12 tahun pesantren.
itu pun tak menjamin, semua atas kehendak dan izin Allah. Tak semua santri menjadi kiai dan ustadz.
yang penting, jadilah santri pada profesi apapun.

Ust. Fahmi dengan perlahan membacakan kitab jurumiyah dan mengartikannya dengan bahasa banten, kami menuliskan artinya pas dibawah lafadznya. Penjelasannya alhamdulillah dengan bahasa Indonesia, hingga kami yang orang betawi bisa memahaminya. Pengajian ditutup dengan wallahu 'alam bishshowaab, Allah-lah yang lebih tahu akan kebenarannya. Ini adalah ungkapan tawadhu orang alim ketika menjelaskan sesuatu, yang merasa banyak kekurangan dan mungkin ada kesalahan, hingga kebenaran segalanya diserahkan kepada Allah. Lalu kami para santri membaca syair dengan wazan faulun mafaailuun.

Naruddu bikal a'daa minkulli wijhatin
wabilismi narmihim minal bu'di bisysyatat
fa anta rojaai yaa ilaahi wasayyidii
fa fariq lamiimal jaisyi in romaa bigholath

Artinya:
Kami menolak kejahatan dengan Nama-Mu ya Allah, dari segenap arah.
dan dengan nama-Mu kami melempar dari jauh dengan kekuatan
maka Engkaulah harapanku, Duhai Tuhanku dan Tuanku
maka pisahkanlah barisan pasukan musuh, jika kumelempar.

Suara yang berbarengan itu terdengar merdu dan suasana senja menjadi selaksa surga. Burung-burung mulai bernyanyi di dahan pepohonan. Para santri bubar dan aku yang masih duduk di majlis itu melihat kibaran-kibaran jilbab yang laksana gelombang lautan. Aku merasakan inilah salah satu kekuatan yang akan menjadikan Islam begitu memikat hati orang-orang yang jernih akalnya. Inilah kedamaian dan kebahagiaan yang selama ini orang cari. Kesederhanaan, Keilmuan, Kesabaran, keqona'ahan, kebersihan hati dari sifat buruk, keikhlasan, dan cita-cita tinggi kehidupan, yakni mencintai sesama dan mencintai Tuhan. Suasana syahdu itu tak kuat ku tahan. Air mataku memenuhi kelopak. Aku tuliskan sebuah lagu tentang santri ini. di kertas catatanku, dengan nada yang kubuat sekenanya. Inilah Mars Santri Ciptaanku...

Mars Santri

Burung bernyanyi
Diatas dahan pepohonan
Lautan jilbab
Santri-santri yang mengaji
Di pondok As Salaam yang tercinta
Membina iman jiwa dan raga
Membangun dunia Islami
Menuju ridho ilahii

Alunan Qur'an
Senandung mukjizat abadi
Hidupkan sunnah
Di Bawah Naungan Ka'bah
Bintang-gemintang yang bertaburan
teman munajat diwaktu malam
Dzikir dan doa harapan
Tegakkan kalimat tauhid

Allaahu Allaah.....

Selasa, 25 Maret 2014

Diskusi Para Ustadz

Diskusi Para Ustadz
Alex Iskandar

"Baiklah saudara-saudara sekalian, kita mulai saja diskusi kita siang ini. tapi sebelumnya demi kelancaran diskusi kita, kita mulai acara ini dengan basmallah." ucapku "Bismillahirrohmanirrohim." semua ustadz telah siap. aku melanjutkan. "Baiklah, tema kita kali ini yaitu kita akan mendiskusikan tentang semangat ilmu dan dakwah. Untuk pembahas pertama saya persilahkan kepada ustadz Syukron untuk menjelaskannya."
Ustadz Syukron mengucap basmalah dan muqaddimah lalu membahas, "Untuk diskusi tentang semangat ilmu dan dakwah, saya kita sangat erat hubungannya, karena ketika orang itu memiliki semangat ilmu atau semangat menuntut ilmu, pasti ia pula semangat untuk menyebarkannya atau mendakwahkanya. Kalau saya umpamakan, ketika orang itu rakus makan, dan perutnya penuh dengan makanan, maka ia akan membutuhkan ke WC atau buang air, dan kuantitas pengeluarannya bisa banyak pula, dibanding orang yang jarang makan, yang bisa jadi jarang ke belakang untuk setor ke bank jamban. iya to? hehehe..." kami semua tertawa.
"Nah begitulah umpama dari semangat belajar ilmu, ia akan terdorong pula untuk mengoutput apa yang telah ia cerna di hati dan pikirannya. Saya kita itu saja penjelasan saya menyangkut hal ini. terima kasih." tutup ust Syukron dengan gaya guyonnya yang khas.

Aku kembali mengambil kendali, "Bagus sekali ust Syukron atas paparannya yang mudah sekali dicerna sehingga mudah pula untuk dioutputkan. hehehe.." candaku. "Baik yang selanjutnya akan kita dengarkan paparan dari ustadz Ali, tafadhol ustadz..."

Ust Ali bedehem lalu mengatakan, "Toyib, kalau menurut saya, semangat adalah power atau strong yang memompa hati sang pelajar atau muta'allim untuk melakukan sesuatu apapun itu. Jika ia sedang jatuh cinta, maka cinta itu jadi semangat untuk mendapatkan orang yang ia cintai. dan ini fithroh. Setiap orang punya cinta, setiap orang punya kemauan dan semangat dalam hidupnya. Jika ia mencintai ilmu maka semangat yang bergelora itu akan ia aplikasikan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Ia tidak akan pernah puas dengan ilmu. Yang saya tahu, Orang kaya itu tidak akan puas dengan hartanya, bumi tak akan puas dengan airnya, Ulama tidak akan puas dengan ilmunya, dan neraka jahannam tidak akan puas dengan pendosanya. jadi saya simpulkan, semangat ilmu adalah kekuatan yang diberikan Allah ta'ala untuk tolabul 'ilmi, dan kaitannya dengan dakwah, saya artikan dakwah berasal dari kata da'a yad'u da'watan, berarti dakwah masdar dari da'a yang artinya mengajak, da'wah berarti ajakan, sedangkan maf'ulnya mad'u, orang yang diajak atau audiens. Nah, apakah orang yang tak tahu jalan ke Karawang bisa mengajak orang lain ke karawang? tentu tidak bisa kan? yang ada malah nyasar, atau istilah agamanya dhollu wa adhollu, sesat menyesatkan. Jika ingin berdakwah maka harus punya pengetahuan jalan yang benar, shirotol mustaqim, jalan menuju Allah swt yang terdapat pada petunjuk Al Qur'an dan sunnah nabi serta pemahaman yang benar tentang Islam. sekiranya itu saja Syukron katsiron." tutupnya.

"Subhanallah, semakin bergelora diskusi kita siang ini. dan yang terakhir adalah paparan dari ust Fahmi, silahkan ustadz..." kataku.
"Na'am, Syukron ya akhi Hary, sebenarnya saya setuju dengan paparan ust Syukron dan ust Ali, tapi saya akan mencoba memandang dari sisi yang berbeda tentang semangat ilmu dan dakwah. Ilmu itu sesuatu yang mulia dan memuliakan pemiliknya, firman Allah dalam surat al Mujadalah ayat 11, yarfa'illahulladzina aamanuu minkum, walladzina uutul 'ilma darojaat. Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Jadi dengan semangat ayat ini, orang yang beriman ingin diangkat derajatnya dengan ilmu. jadi saya katakan, adanya semangat itu karena adanya stimulus atau rangsangan, kita mau makan karena kita tau makanan itu baik buat kita, buat tubuh kita. jadi semangat ilmu itu adalah semangat mencari derajat mulia di sisi Allah tentunya. Adapun dengan dakwah, itu menjadi kewajiban bagi setiap umat islam, ia berdakwah sebisanya, karena perintah dakwah itu, ud'u ilaa sabiili robbika bil hikmah wal mauizhotil hasanah wajaadilhum billati hia ahsan. Ajaklah kejalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik pula. Jadi semangat, ilmu dan dakwah, tiga concern diskusi kita siang ini memiliki kaitan yang erat. Semangat akan menghasilkan ilmu, ilmu akan mendorong dakwah, dan dakwah akan memble tanpa semangat. Saya istilahkan ini sebagai kekuatan segitiga. wallahu a'lam. syukron." Kami semua bertepuk tangan.  Lalu saya timpali, "Segitiga kekuatan itu adalah simbol tiga ustadz yang super-super dihadapan saya ini. Betul tidak?"
Semua tersenyum. "Insya Allah, ini perjuangan kita bersama." kata ust Fahmi.

Acara saya tutup dengan hamdallah. dan kami bersalaman tanda diskusi selesai. alhamdulillah.... aku menemukan percikan semangat persatuan pada tiga ustadz ini. Mereka bergitu bersemangat dan pandangannya cukup luas di usia yang masih muda-muda ini. Merekalah harapan masa depan yang baik bagi bangsa dan negeriku. Allahummaj'alnaa minashsholihiin. Ya Allah, jadikan kami orang-orang sholeh. Aamiin.

Aku kembali ke kobong dengan buku tulisku. Aku taruh buku itu di lemari hitam dan aku merebahkan badan di atas kasur lipat. Ada beberapa anak yang ngobrol sambil tiduran. Ini adalah waktu senggang, aku pun ingin sedikit istirahat. untuk mengembalikan semangatku dalam menuntut ilmu. Diam-diam aku iri pada ustadz-ustadz pesantren, iri dalam arti positif. aku ingin bijak dan cerdas seperti mereka. Memiliki ilmu yang menjadikan mereka mulia di mata manusia, dan yang membanggakan mulia di sisi Allah. Apa ini yang dikisahkan dalam al-Quran yang pernah saya dengar kisahnya di waktu kecilku dulu. Bahwa ketika Adam as. diciptakan dan diajarkan nama-nama seluruhnya, hingga malaikat dan iblis diperintah sujud kepadanya karena ilmu itu. Kemuliaan ilmu sangat agung. Aku akan mempelajarinya terus insya Allah, dengan berpedoman akan syarat menuntut ilmu yang disampaikan oleh H. Salim yang mengutip perkataan sang ahli ilmu. Bahwa syarat menuntut ilmu itu ada enam, yaitu Cerdas, Rakus pada ilmu, Sabar, Bekal, Petunjuk guru, dan waktunya lama. Mungkin perjalanan ilmuku baru dimulai. Langkah-langkah hatiku baru menapaki pintu gerbang ilmu yang harus kujelajahi taman-tamannya, ku ikuti aliran sungainya dan ku selami kedalaman samuderanya. Hingga seperti yang dikatakan Kiai Ahmad, bahwa ulama yang sesungguhnya itu adalah ulama yang ilmunya tabahhur, luas dan dalam laksana lautan samudera. La haula walaa quwwata illaa billah.

Menghidupkan Ilmu

Menghidupkan Ilmu

Alex Iskandar

Usai makan siang, seperti biasa untuk santri baru sepertiku yang masih harus banyak belajar dalam mengejar ketertinggalan, aku belajar menulis di buku dengan mengartikan kitab safinah dengan tulisan arab pegon. Awal-awalnya masih kaku menulis dan lama. Tapi lama kelamaan menulis arab itu asyik juga. Setelah menulis kitab safinah lima baris dengan arti dibawahnya perlafadz arab, kami para santri pemula dibimbing membaca oleh ust. Syukron. beliau membacakan dan menyuruh kami mengikuti. Agar kami lebih lancar membaca kitab arab. Setelah usai, kami berhamburan ke kobong. aku pergi ke kebun yang sepi, untuk membaca ulang apa yang telah kupelajari. aku bertekad untuk menyaingi teman-teman yang sudah mahir membaca kitab. Maklumlah, aku ini dari SMP dan masih awam agama, sedang teman sekelasku rata-rata anak asli daerah pesantren dan anak ustadz, memang ada sih teman yang masih awam sepertiku, tapi ia tidak berusaha untuk mengejar ketertinggalan dan terlihat santai saja, aku tidak suka orang yang tidak punya gretet dalam belajar seperti itu. dan aku tak mau betah-betah tenggelam dalam kedunguan seperti ini. Maka kupikir ada baiknya juga menjauhi orang malas dan berteman dengan buku.

Aku tak dapat menawahan senyum melihat tulisan arabku yang masih jauh bagus dengan tulisan ust Syukron yang bagus sekali khot naskhinya. Aku pun ingin seperti beliau yang tanganya seperti lemas sekali dalam menulis dan tulisannya indah banget. Setiap gerakan spidol hitam yang ia goreskan selalu aku jadikan pedoman menulis, tapi tulisanku yang dibuku itu terlihat seperti ceker ayam... heheheh aku nyengir sendiri. Pelan-pelan ku baca tulisan buruk rupa itu, "Alahmdulillahirobbil 'aalamin, utawi sekehe puji iku tetep kedue Allah kang mengerani wong alam kabeh."
"Kak Hary, dipanggil ust. Syukron." kata Saeful dari samping majlis. suaranya setengah teriak.
aku menutup buku dan berjalan menuju Saeful, "Ada apa ful?"
"Nggak tahu kak, Mungkin ada yang penting." jawab iful sambil menggeleng kecil.
"Ya sudah. Makasih."
"Ya kak. sama-sama." Iful pergi ke arah kobong.
Aku berjalan lewat belakang majlis lalu ke kobong para ustadz, yang mana disitu ust Syukron beristirahat. Kuketuk pintu. Dari dalam suara ust Syukron mempersilahkan masuk.
Kubuka pintu dan kumasuk dengan salam. Para ustadz yang ada di dalam menjawab salam hampir serempak.
"Ada apa ustadz?" tanyaku.
"Kami butuh bantuanmu Hary." jelas ustadz Syukron. "Saya akan mengadakan diskusi agama dengan teman-teman ustadz yang lain. dan kau kami minta untuk menjadi moderatornya. Atau kalau dipesantren dikenal sebagai Raisul barnamij. "Wah, saya belum tentu bisa tad." tolakku.
"Tidak susah kok. Kamu hanya menjadi penengah antara kami bertiga." kata ustadz Fahmi yang terlihat serius sekali wajahnya. "Ya sudah, baiklah, saya akan coba." kataku.
"alhamdulillah, ini adalah salah satu cara untuk menghidupkan ilmu, yaitu dengan membahasnya dalam diskusi." terang ust Ali.

"Baiklah, kira-kira judul diskusinya apa?" tanyaku.
"Bagaimana kalau.....politik kenegaraan.?" usul ust. Ali.
"Wah, keberatan dan terlalu jauh Li, lebih baik yang ringan-ringan dulu." timpal ust. Syukron.
"Bagaimana kalau Semangat ilmu dan Dakwah?" usul ust Fahmi.
Semuanya mengangguk dan aku pun setuju.
"Baiklah, para ustadz yang bergelora, Kita mulai diskusi kita. Anda semua siap?" kataku dengan seringai senyum. Mereka semua mengamibl posisi melingkar atau halaqoh. Dan Diskusipun dimulai....